Diskusi Buku Indonesia di Jalan Restorasi

Diskusi Buku Indonesia di Jalan Restorasi

Oleh: Ons Untoro, Budayawan dan Pengasuh Rumah Tembi Yoyga

“Restorasi adalah upaya menghidupkan kembali semua yang hilang itu”

Restorasi adalah gerakan perubahan yang menyiratkan pembentukan ulang, pengenalan gagasan baru, tetapi dalam waktu bersamaan berupaya mengembalikan sesuatu yang hilang: nilai, karakter, bahasa, adat, kebiasaan.

Satu diskusi buku karya Willy Aditya berjudul “Indonesia Di Jalan Restorasi, Politik Gagasan Surya Paloh” diselenggarakan di Zango Express Café, Demangan, Yogyakarta, Senin sore 4 November 2013, menghadirkan pembahas, diantaranya Dr Ary Dwipayana, pengajar Fisipol UGM; dan penulisanya sendiri, Willy Aditya dengan moderator Titok Haryanto, peneliti.

Peserta diskusi sebagian besar anak-anak muda, dan hanya sedikit orang tua yang usianya di atas 50 tahun, setidaknya seperti Purwadmadi, jurnalis senior, Slamet Riyadi Sabrawi, penyair, Budhi Wiryawan, mantan Ketua KPUD Bantul, Subardi Ketua DPW DIY Partai Nasdem dan sejumlah aktivis perempuan.

Mengawali diskusi dalam memberi pengantar, Titok, selaku moderator menyampaikan guyonan dari rekan-rekan yang diundang diskusi melalui sms. Kata Titok, “Restorasi ini di kereta api apa?”. Rupanya, restorasi yang menjadi fokus dari buku karya Willy ini mengingatkan kata ‘restorasi’ yang ada di salah satu gerbong kereta api. Willy Aditya, penulis buku menyampaikan, bahwa buku ini tidak membahas perihal siapa Surya Paloh, tetapi lebih menyampaikan gagasan-gagasannya tentang restorasi Indonesia.

Politik gagasan, lebih sebagai sikap kebudayaan, belum masuk ranah politik praktis. Di dalam buku ini, Surya Paloh diletakkan pada medan politik dan kebudayaan. Medan politik menggunakan partai politik dan medan kebudayaan menggunakan media.

Dalam tulisan di pengantar buku tersebut Yasraf Amir Piliang mengatakan, restorasi adalah gerakan perubahan yang menyiratkan pembentukan ulang, pengenalan gagasan baru, tetapi dalam waktu bersamaan berupaya mengembalikan sesuatu yang hilang: nilai, karakter, bahasa, adat, kebiasaan, pengetahuan dan kearifan lokal, toleransi, kebersamaan, persaudaraan, komunalitas dan rasa kebangsaan.

“Restorasi adalah upaya menghidupkan kembali semua yang hilang itu,” kata Yasraf Amir Piliang.
Ary Dwipayana, pengajar Fisipol UGM dan dikenal sebagai pengamat politik, mengatakan bahwa gagasan restorasi bersifat value changes yang berbasis pada nilai harus diwujudkan pada kerja melalui pertarungan politik.

“Gagasan harus ditabrakan material karena jika tidak, gagasan tersebut tidak akan membumi,” kata Ary Dwipayana.

Selanjutnya Ary Dwipayana mengatakan bahwa gagasan tidak bisa diwujudkan apabila tidak ada power. Melalui power, gagasan bisa menjadi lebih transformatif. Bagi Ary Dwipayana, gagasan akan menjadi baik apabila tidak berhenti pada gagasan, melainkan harus bisa berpengaruh pada orang lain.

Salah seorang peserta diskusi, dalam sesi dialog, ada yang mempertanyakan asal gagasan. Apakah gagasan restorasi dari Surya Paloh, atau dari Willy Aditya sebagai penulis buku. Merespon pertanyaan ini Willy mengatakan, bahwa tugas dirinya hanyalah menulis dari selama ini berbincang dengan Surya Paloh. Jadi, dirinya mencatat apa yang didiskusikan dengan Surya Paloh dan menuliskannya menjadi buku.

“Gagasan utamanya dari Surya Paloh, saya hanya menulis apa yang dia sampaikan kepada saya,” ujar Willy Aditya.

Buku berjudul ‘Indonesia di Jalan Restorasi, Politik Gagasan Surya Paloh”, berisi pula catatan komentar beberapa tokoh, diantaranya dari Ahmad Syafii Maarif. Menurut Ahmad Syafii Maarif, kita merindukan sosok-sosok pemimpin yang rela menjadi telinga dan mata bagi pencari keadilan, pendamba kesejahteraan dan pengayom bagi masyarakat bawah.

http://www.tembi.net/en/news/berita-budaya/diskusi-buku-indonesia-di-jalan-restorasi-5342.html