Adaptasi

Adaptasi

Tanpa ba, tanpa bi, tanpa bu, lalu tanpa babibu, semuanya menjadi nyata dan dilakoni dalam keseharian. Tak pernah terbersit dalam citaku atau sekedar untuk berpikir akan situasi ini. Setidaknya memang begitulah dan begitulah memang adanya sekarang.

Seperti mesin orang-orang berkata, bahwa pergi pagi dan pulang malam, seharian di depan komputer, menggeluti sesuatu yang sama sekali baru bagi hidup ini. Membuat surat resmi, mengatur jadwal pertemuan, memesan tiket ke travel agen, menuliskan notulensi pertemuan, mem-foto copy bahan-bahan pertemuan, mendokumentasikan materi dan arsip pekerjaan dan segala sesuatu yang tak sempat aku lakukan dahulunya.

Berstatus “konsultan” dan “digaji lumayan” adalah suatu hal yang tak bisa disangkal. Bahwa banyak pilihan itu semestinya namun tak banyak ruang yang tersisa adalah keadaan. Bahwa bersukarialah para seniman yang dibayar mahal atas suatu kesenangan dan kemerdekaan dari
karya-karya mereka.

Inilah suatu hijrah atau adaptasi, dari seberang kemulian berpikir dan keliaran gagasan ke dalam pekerjaan administratif yang kaku dan punya standar operasional prosedur. Menantang sekaligus menjemukan bahwa inilah kenyataan yang tak sesuai dengan cita dan khayalku.

Jalani saja, toch hidup ini selalu bermuara pada suatu yang lebih luas. Seperti sungai-sungai mengalir ke lautan dan seperti burung-burung berkicau di langit biru. Kuharap semoga hendak dan harapku akan berenang-renang di samudra luas dan langit biru dengan kebebasan pilihan, kemerdekaan waktu dan kemandirian keuangan terhadap hidupku. Seolah eksistensialis kedengarannya namun begitulah untuk hidup, bahwa kerja adalah untuk merealisasikan eksistensi adalah benar, tetapi kebebasan dalam memilih pekerjaan adalah kebenaran!