Alif Camilo Adiwijaya Refleksi Oktober

Alif Camilo Adiwijaya Refleksi Oktober

Walaupun terlambat hujan turun mengendus kulit bumi, asap dan debu menguap ke langit dan katak bernyanyi menyambut musim kawin datang. Oktober di penghujung 2008, suatu cacatan penting dalam hidup bahwa pelanjut angkatan sudah datang. Bukan bersama sumpah pemuda yang diperbaharui oleh kaum muda yang mengemis kekuasaan pada para elit politik untuk berganti. Bukan pula bersama peringatan revolusi Bolsevik yang menggemparkan dunia di awal abad ke-20.

Alif itu datang bersama Hyang Asmara pada Selasa Kliwon dalam penanggalan Jawa dan spirit Syawal yang penuh kemenangan bersama gema takbir dan tahmit. Dari malam 29 Oktober, kau sudah mengetuk pintu rahim ibumu, sehingga ibu harus berkemas dan menitipkan aortanya pada sang Kuasa.

Camilo, mengingatkan aku pada suatu pertempuran! Di atas meja persalinan, pintu terbuka lebar tetapi kau masih enggan untuk menemui kami. Beberapa kali aku membantu ibumu untuk terus mendorong pintu itu. Sudah hilang kesabaran kami untuk mendengarkan pekik merdekamu dengan darah yang terus mengujur membasahi kain panjang ibumu. Namun, kau punya jalan sendiri untuk merdeka, dijemput dengan mesin ibu dokter yang mempesilakan aku bapakmu untuk keluar dari ruang bersalin.

Adiwijaya, pagi 30 Oktober, jarum jam di rumah bersalin adinda menunjukkan pukul 08.20, sesudah aku berhajat pada sang Kuasa dan memberi salam pada malaikat di sebelah kanan, di ruang bawah malaikat kecilku menyahut ”wa’alaikumsalam!’ pekikmu!

Sebentar dunia hening menyambut pekikmu, dan sujud di tikar rotan. Bahagia air mata dan ucap selamat melengkapi kemanusiaanku di bumi dan atas nama suatu keluarga dalam masyarakat manusia ini.

Begitulah kami bersepakat memanggilmu, Alif Camilo Adiwijaya, anak merdeka yang lahir di Yogya, kota penuh cinta, semangat emansipasi, dan solidaritas antar sesama.