Human Security

Human Security
Seberapa aman dan bebaskah kita sebagai individu? Ini adalah pertanyaan utama dibalik gagasan human security yang menarik perhatian para pembuat kebijakan dan ilmuwan. Human security merujuk pada pandangan baru dalam memahami kerentanan global. Konsep ini menentang konsep keamanan tradisional dengan menyatakan objek keamanan utama seharusnya individu dan bukan negara. Human security menganut cara pandang keamanan berorientasi manusia sebagai elemen penting bagi stabilitas lokal, nasional dan global.
 
Konsep ini berkembang paska perang dingin, terutama melalui publikasi The United Nations Development Programme (UNDP) 1994 Human Development Report oleh Dr. Mahbub ul Haq. Sejak saat itu konsep human security menerima sorotan dari berbagai institusi. Secara ringkas UNDP mendefinisikan human security sebagai :
 
“first, safety from such chronic threats such as hunger, disease, and repression. And, second, …protection from sudden and hurtful disruptions in the patterns of daily life — whether in homes, in jobs or in communities”.
 

 

“pertama, keamanan dari berbagai ancaman kronis seperti kelaparan, penyakit dan represi. Dan kedua. Perlindungan dari gangguan atas pola kehidupan sehari-hari- baik di rumah, tempat kerja atau komunitas”.
Jadi, secara umum, definisi human security menurut UNDP mencakup “freedom from fear and freedom from want”. Konsep human security UNDP menandai pergeseran hubungan internasional yaitu perubahan norma tentang hubungan antara kedaulatan negara dan hak azasi manusia yang kemudian melahirkan konsep Responsibility to Protect.
 
Pada tahun 1994 UNDP menjelaskan konsep human security yang mencakup:
Keamanan ekonomi, keamanan pangan, keamanan kesehatan, keamanan lingkungan hidup, keamanan personal, keamanan komunitas, dan keamanan politik. Berikut adalah deskripsi singkatnya:
 
1. Keamanan ekonomi—keamanan ekonomi mensyaratkan pemasukan tetap yang layak bagi tiap orang. Hal ini tercapai dari pekerjaan yang menghasilkan dan layak. Selain itu bisa juga dari jaringan pengamanan sosial yang dibiayai publik (negara). Dalam konteks ini, hanya seperempat penduduk dunia yang secara ekonomi aman. Sementara masalah keamanan ekonomi lebih mengkhawatirkan di negara berkembang, walau di negara maju juga menjadi masalah.
 
2. Keamanan pangan— keamanan pangan mensyaratkan semua orang dalam setiap waktu memiliki akses ekonomi dan fisik terhadap makanan. Menurut PBB, ketersediaan pangan tidak menjadi masalah, tetapi yang menjadi masalah adalah buruknya distribusi bahan pangan serta rendahnya daya beli penduduk. Kunci mengatasi permasalahan ini berkaitan dengan akses terhadap aset, pekerjaan dan pendapatan yang layak.
 
3. Keamanan kesehatan— keamanan kesehatan bertujuan menjamin perlindungan minimum dari penyakit dan gaya hidup yang tidak sehat. Di negara berkembang, penyebab utama kematian adalah penyakit menular dan parasitik, yang membunuh 17 juta penduduk pertahun. Di negara maju, pembunuh utama adalah penyakit sistem saluran pernapasan dan pencernaan, yang membunuh 5,5 juta penduduk pertahun. Menurut data PBB, di negara berkembang dan maju, ancaman keamanan kesehatan lebih mengancam penduduk miskin di daerah pedesaan, terutama anak-anak. Hal ini terutama karena kurang gizi dan kurangnya pasokan obat-obatan, air bersih dan kelengkapan kesehatan lainnya.
 
4. Keamanan lingkungan hidup—- hal ini bertujuan melindungi orang dari dampak buruk kerusakan atau bencana alam, bencana alam akibat ulah manusia, dan menurunnya kualitas lingkungan hidup. Di negara berkembang, rendahnya akses air bersih adalah salah satu ancaman lingkungan terbesar. Di Negara maju, salah satu ancaman utama adalah polusi udara. Selain itu Pemanasan Global (Global Warming), yang diakibatkan emisi gas rumah kaca, adalah isu besar dalam keamanan lingkungan hidup.
 
5. Keamanan personal—- keamanan personal bertujuan melindungi orang dari kekerasan fisik, baik dari aparatus negara, negara lain, sesama individu, hingga pelecehan domestik. Bagi banyak orang, sumber utama keresahan adalah kejahatan, terutama kejahatan yang disertai kekerasan.
 
6. keamanan komunitas— keamanan komunitas bertujuan melindungi orang dari lunturnya hubungan dan nilai tradisional, serta dari kekerasan sektarian, religi dan etnis. Komunitas tradisional, terutama kelompok etnis dan kepercayaan minoritas sering kali merasa terancam. Sekitar setengah dari seluruh jumlah Negara di dunia pernah mengalami ketegangan antar etnis.
 
7. Keamanan politik- keamanan politik terkait dengan lingkungan social yang menghargai hak asasi manusia. Tindakan represi bermotif politik, penyiksaan sistematik, penghilangan paksa, penangkapan tanpa proses hukum merupakan bentuk ancaman terhadap keamanan politik. Selaras dengan represi individu dan kelompok, pemerintah juga bisa melakukan represi dengan mengontrol ide dan informasi.
 
Ketujuh kategori ancaman tersebut selayaknya mendapatkan perhatian yang seimbang. Namun upaya menerapkan agenda keamanan insani ini terpolarisasi menjadi dua kubu— ”freedom from fear” (bebas dari rasa takut) dan ”freedom from want” (bebas dari ketidakmampuan memiliki). Selayaknya penegakan keamanan insani mencakup dua aspek tersebut dan juga menyesuaikan dengan kebutuhan dari masyarakat spesifik.
 
1. Freedom from fear
pendekatan ini membatasi praktek penegakan keamanan insani pada perlindungan individu dari konflik yang disertai kekerasan. Pendekatan ini memfokuskan pada kekerasan untuk di kelola secara realistik. Tindakan pengelolaannya antara lain bantuan darurat, pencegahan dan resolusi konflik, peace building.
 
2. Freedom from want
Pendekatan ini memfokuskan pada gagasan bahwa kekerasan, kemiskinan, ketimpangan social, penyakit, dan kerusakan lingkungan adalah konsep yang tidak terpisahkan dalam membahas keamanan insani. Berbeda dengan pendekatan sebelumnya, pendekatan ini memperluas fokusnya tidak terbatas pada kekerasan melainkan juga pada tujuan pembangunan.
 
Keamanan insani dan keamanan tradisional (keamanan nasional) bukanlah konsep yang bertentangan. Tanpa keamanan insani, keamanan nasional tidak bisa tercapai dan juga sebaliknya.
 
Keamanan tradisional adalah kemampuan negara untuk melindungi diri dari ancaman eksternal. Keamanan tradisional (sering disebut sebagai keamanan nasional atau keamanan negara) memfokuskan diri pada konsep negara bangsa. Berikut adalah tabel perbedaan konsep keamanan tradisional dan keamanan insani.
 
Keamanan Tradisional Keamanan Manusia
Objek Kebijakan keamanan tradisional dirancang untuk melayani kepentingan negara. Kepentingan lainnya disubordinasikan di bawah negara. Keamanan tradisional melindungi perbatasan, rakyat, institusi dan nilai kebangsaan. Keamanan insani berorientasi manusia. Fokusnya adalah melindungi individu. Dimensi utamanya adalah merespon kebutuhan penduduk ketika berhadapan dengan sumber sumber ancaman.
Cakupan Keamanan tradisional bertujuan melindungi negara dari agresi eksternal. Yaitu kemampuan negara untuk menghalangi atau mengalahkan serangan musuh.
 
Selain melindungi negara dari serangan luar, keamanan insani melebarkan cakupan perlindungannya dengan memasukan ancaman yang lebih luas, termasuk polusi lingkungan, penyebaran wabah penyakit, dan deprivasi ekonomi.
Aktor Negara adalah actor tunggal, untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Kekuasaan pengambilan kekuasaan tersentralisir di pemerintah, dan pelaksanaan strategi keamanan jarang melibatkan masyarakat. Keamanan tradisional mengasumsikan negara berdaulat beroperasi di lingkungan internasional yang anarki, dimana tidak ada badan yang lebih berkuasa di atas negara yang bisa membatasi perilaku negara. Pelaksanaan keamanan insani tidak hanya melibatkan pemerintah, namun juga partisipasi luas dari aktor lain. Misalnya organisasi regional dan internasional, Lembaga Swadaya Masyarakat, media dan komunitas lokal.
Sarana Keamanan tradisional bergantung pada pembangunan kekuatan dan pertahanan militer nasional. Bentuk umumnya adalah perlombaan senjata, aliansi pertahanan, dll.
 
Keamanan insani bukan hanya melindungi, namun juga memperkuat masyarakat sebagai sarana mencapai keamanan. Masyarakat berkontribusi dengan mengidentifikasi dan menerapkan solusi terhadap ketidakamanan mereka sendiri.
 
Konsep keamanan insani juga terkait dengan praktek pembangunan. Berdasarkan konsep keamanan insani, kemiskinan dan ketimpangan merupakan akar penyebab dari kerentanan individu. Frances Stewart menyatakan bahwa keamanan dan pembangunan sangat terkait satu sama lain:
 
- keamanan insani membentuk bagian penting dari keberadaan manusia, karenanya keamanan insani menjadi tujuan dari pembangunan. Tujuan pembangunan adalah ”memperluas pilihan manusia”. Ketidakamanan akan memotong harapan dan potensi hidup sehingga mempengaruhi tujuan pembangunan.
 
- kurangnya keamanan insani memiliki dampak buruk terhadap pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Misalnya, dalam peperangan, orang yang bergabung dengan tentara atau mengungsi tidak bisa melakukan kerja produktif. Selain itu, hancurnya infrastruktur mengurangi kapasitas produktif perekonomian.
 
- Ketidakseimbangan pembangunan yang melibatkan ketimpangan horizontal adalah sumber konflik. Karenanya lingkaran setan dari kemiskinan akan mengarah ke konflik, lalu ke kurangnya pembangunan. Begitu juga sebaliknya, tingginya keamanan insani mengarah pada pembangunan, sehingga semakin memperkuat keamanan insani.
 
(Terjemahan dari wikipedia oleh Aditya Muharram dan Willy Aditya)

Kamis, 10 Januari 2008