Kepala Tiga Satu

Kepala Tiga Satu

Waktu tak ada habis-habisnya. Banyak cakap dan debat tentang waktu, ada yang bilang waktu adalah uang, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga serta tak jarang waktu juga banyak yang dibuang sia-sia.

Tak banyak yang dapat diceritakan, seolah nafas, usia dan karya pacu-memacu dengan cita-cita. Di sela ruang dan waktulah aku menyempatkan menulis bait bahwa aku harus memberikan kado ulang tahun walau terlambat.

Inilah kado yang kupunya untuk diriku, sebuah catatan kecil dalam blog, untuk menghormati diri sendiri bahwa ulang tahun adalah penanda dan simbol yang selalu berulang. Disinilah kita menulis ulang, mengingat kembali dan mentasbihkan doa pada Tuhan.

Bahwa, perjalanan usia dalam waktu dan karya dalam ruang adalah suatu kemutlakan. Selamat ulang tahun kuucapkan pada diri sendiri, berkacalah, berkacalah, teguhkanlah pilihan karena “kau sudah 31 tahun!” inilah masa memulai sesuatu yang tergaris oleh tangan dan alam.

Berjanjilah pada diri sendiri, pada keluarga dan pada masa yang akan datang bahwa “menunda kesenangan adalah sesuatu kebaikan!” bahwa kemuliaan adalah hasil kerja keras, cucuran keringat tanpa memotong hak orang lain. Makan dan minumlah dari tangan sendiri dan jangan mengambil yang bukan hakmu.
“selamat ulang tahun, bung!”