Sebuah Catatan Semangat Restorasi

Sebuah Catatan Semangat Restorasi

Perada Koran Jakarta, Senin, 21 Oktober 2013

Judul Buku : Indonesia di Jalan Restorasi
Penulis : Willy Aditya
Penerbit : Populis Institute
Genre : Politik
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku : xxix 188 halaman
ISBN : 978-602-14-363-0-1

Di Indonesia, tampak terpisah antara tindakan partai dan politisinya dengan masalah kehidupan nyata rakyat biasa. Di sisi lain, banyak pandangan politik cuma menjadi alat politisi untuk mengayuh kendaraan menuju rumah kekuasaan.

Perubahan politik cenderung tanpa gagasan dan belum mengartikulasikan kedaulatan rakyat. Kedaulatan secara politik masih jauh dari upaya menjunjung tinggi cita-cita keadilan dan kesejahteraan. Tumpang-tindih problem politik di negeri ini membuat tidak ada pemikiran dan gagasan baru untuk mengatasi permasalahan bangsa.

Dalam pengantar buku ini, Budayawan Yasraf Amir Piliang menegaskan adanya kecemasan akan “kehampaan intelektualitas” dalam ranah politik sehingga praktik politik nyaris tidak dilandasi pengetahuan dan kebajikan. Jalan sunyi Restorasi adalah cara “nalar” dan “akal sehat” dalam arsitektur demokrasi dengan membangun ulang praktik politik yang telah terkontaminasi kekuatan uang, gelimang materi, gemerlap gaya hidup, kilauan popularitas, dan virusvirus pencitraan, (halaman xi-xxii). Buku ini juga menjelaskan secara naratif makna restorasi Indonesia.

Restorasi agak terdengar asing bagi masyarakat dibanding kata revolusi atau reformasi. Restorasi Indonesia adalah jalan yang menggabungkan kekuatan-kekuatan politik pengusung perbaikan dalam setiap kebijakannya, kemudian dipraktikkan secara konkret dalam kehidupan. Gerakan restorasi memang hanya akan terwujud dan mampu mencapai tujuannya ketika digerakkan pemegang kekuasaan negara. Namun, gerakan ini tidak menempatkan posisi negara vis-a-vis rakyat.

Gerakan restorasi Indonesia akan menghimpun kekuatan rakyat sebagai metode perjuangan, (halaman 11). Karena itu, diperlukan perubahan yang bisa melestarikan nilai, identitas, serta jati diri bangsa. Perubahan bukan sirkulasi kekuasaan semata, melainkan mentransformasikan watak negara kembali kepada jati dirinya. Maka, diperlukan sebuah gerakan kebangsaan untuk mengembalikan karakter solidaritas dan cita-cita para founding fathers. Sebuah gerakan terencana, tidak boleh berangkat dari amarah, tetapi dari pemikiran yang sadar, matang, dan terkonsep.

Itulah gerakan restorasi Indonesia, (halaman 15). Penulis buku ini sering terlibat diskusi mendalam mengenai berbagai persoalan tentang kebangsaan dengan Surya Paloh. Buku ini merupakan rekam jejak dan pergulatan emosional-intelektual. Inilah bentuk refleksi politik yang memaparkan pertarungan ide, gagasan, dan makna-makna demokrasi pinggiran yang selama ini dilindas pertarungan kekayaan, uang, serta kekuatan fisik. Di dalamnya juga terkandung spirit tentang moralitas dalam politik: keberanian, pengorbanan, kerelaan, serta keteladanan.

Diresensi David Alka, lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta