Pilkada Sarat Pragmatisme Politik

Pilkada Sarat Pragmatisme Politik

Metrotvnews.com, Jakarta: Langkah Partai Golkar jelang Pilkada Jawa Barat 2018 dinilai tidak biasa. Partai ini hanya mendukung, tak mengusung.

Punya 17 kursi di DPRD Jabar, punya kader yang mumpuni dan berprestasi, namun Golkar lebih memilih jalan lain, yakni membidik kursi Jabar 2 dan menyodorkan kader yang tidak memiliki elektabilitas dan popularitas tinggi.

Adapun Golkar akhirnya memutuskan untuk mendukung Wali Kota Bandung Ridwan Kamil sebagai calon gubernur.

Pria yang kerap disapa Kang Emil itu akan dipasangkan dengan kader muda Golkar Daniel Mutaqien.

"Golkar saya kira ketika memilih Ridwan Kamil semata-mata karena ingin memenangi pertarungan. Soal konsolidasi partai itu belakangan, itu biasa. Partai politik itu lebih banyak dipandang sebagai instrumental saja, sebagai alat untuk mengantarkan orang. Setelah itu figur yang bekerja dan menentukan apakah dia menang atau tidak," ujar Direktur Populi Usep S Akhyar di dalam diskusi bertajuk Pilkada Jabar: Peta Koalisi dan Ada Apa dengan Golkar? di Jakarta, kemarin.

Oleh karena itu, menurut dia, elektabilitas calon kepala daerah menjadi sangat menentukan kemenangan. Fakta itulah yang terjadi di beberapa tempat, termasuk di Pilkada DKI Jakarta lalu.

"Menarik sebenarnya mengenai peta politik di Jawa Barat akan menjadi perhatian 2018 apalagi suara Jawa Barat dapat mencapai 32 juta. 32 juta suara pemilih itu setara dengan 18 persen suara nasional Indonesia. Jadi, siapa yang jadi gubernurnya dari golongan parpol mana pun, mencalonkan siapa pun, akan memengaruhi peta politik Pilpres tahun depan. Maka Gubernur Jawa Barat ini jadi posisi tawar-menawar satu paket dengan pilpres," ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, pengamat politik dari Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK), Arif Susanto, menilai fenomena pengusungan nonkader dalam pilkada mulai tampak dalam perhelatan Pilgub DKI Jakarta.

Ia mengutarakan bahwa dari tiga pasangan calon yang mengikuti Pilgub DKI Jakarta, hanya Djarot Saiful Hidayat yang kader asli partai (PDIP).

Hal itu menandakan lemahnya kaderisasi di partai politik. Hal serupa juga terlihat dalam pilkada Jabar.

Partai Golkar, misalnya, lebih memilih mengusung Ridwan Kamil ketimbang Bupati Purwakarta yang merupakan ka-dernya, Dedi Mulyadi.

"Itu menunjukkan lemahnya kaderisasi politik. Kenapa? Pragmatisme untuk meraih kemenangan melampaui ideologi partai. Partai-partai yang berbasis agama bisa berseteru atau bersekutu dengan parpol yang berbasis nonagama. Jadi memang pragmatisme lebih menonjol," paparnya.

Kalangan agamais

Partai NasDem menginginkan Ridwan Kamil dapat berpasangan dengan tokoh agama. Hal itu diungkapkan Ketua DPP Bidang Media dan Komunikasi Publik Willy Aditya.

Menurut Willy, keinginan NasDem tersebut akan dibicarakan lebih lanjut dengan partai-partai koalisi pendukung Emil seperti PPP, PKB, dan Golkar.

NasDem menilai wakil dari kalangan agamis dapat mendorong elektabilitas Emil di Jabar yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam.

"NasDem ingin pendamping Emil berasal dari tokoh agama mengi-ngat kekuatan Islam di Jabar cukup besar," ucap Willy.

Untuk mewujudkan keinginan tersebut, kata dia, NasDem akan membentuk sebuah konvensi yang bertugas menyeleksi dan memilih kandidat terbaik yang nantinya akan mendampingi Emil. Mengenai siapa yang akan dipilih, itu sepenuhnya terserah Emil.

"Keputusan semuanya ada di tangan Emil. Kita tidak ingin Emil terbebani jika diwajibkan harus memilih wakil yang berasal dari salah satu partai pengusung," tuturnya.

Sejauh ini, setidaknya ada dua nama yang mencuat ke publik sebagai pendamping Emil, yakni Daniel Muttaqien dari Golkar dan UU Ruzhanul Ulum dari PPP. (Uta/P-3)

Sumber berita: http://pilkada.metrotvnews.com/news-pilkada/zNA77Dzk-pilkada-sarat-pragmatisme-politik