Energi perubahan dari akar rumput, Willy Aditya puji gerakan Voluntarisme
Turun Tangan merupakan gerakan sosial yang berdiri sejak 2013 dan kini memasuki angkatan ke-19. Selama satu bulan, para pesertanya terjun langsung ke masyarakat sebagai pengajar, bidan, penggerak komunitas, hingga fasilitator pemberdayaan lokal. Bagi Willy, keberlanjutan gerakan ini menjadi bukti bahwa energi perubahan masih hidup hingga ke akar rumput.
“Ini bentuk nyata bahwa voluntarisme masih hidup di tengah kita. Ini langkah progresif dan patut didukung,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, para relawan turut mendalami proses legislasi serta bagaimana kebijakan publik dibentuk. Willy memaparkan sejumlah produk legislasi yang telah diperjuangkan Fraksi NasDem, mulai dari UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual, UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga, hingga UU Masyarakat Hukum Adat.
“Itu pesan jelas dari Pak Surya bahwa politik harus pro-publik,” kata Willy.
Ia menegaskan bahwa Fraksi NasDem selalu membuka ruang dialog bagi masyarakat sipil. Demokrasi, menurutnya, tidak boleh hanya berjalan di atas formalitas, tetapi harus memberi ruang deliberasi dan tukar gagasan antar banyak kepentingan.
“Siapa saja boleh datang dan berdiskusi. Kita lihat apa yang bisa diperjuangkan bersama. Kalau tidak bisa, apa kendalanya. Di sinilah demokrasi deliberatif bekerja,” ujar Willy.
Kunjungan tersebut dihadiri 70 relawan dari total 140 peserta angkatan terbaru, dengan perwakilan dari Papua, Maibrat, Tidore, Ternate, Makassar, dan berbagai wilayah lainnya. Keberagaman ini menunjukkan bahwa semangat kerelawanan tumbuh tidak hanya di kota besar, namun mengakar kuat hingga ke pelosok Nusantara.
“Animonya besar sekali. Selama masih ada voluntarism, kita berhak optimis,” ucapnya.
Lebih jauh, Willy menilai gerakan Turun Tangan memiliki peran strategis sebagai penghubung antara kerja komunitas dan pembuat kebijakan. Karena itu, ia berkomitmen menjalin sinergi antara relawan dan pejabat publik, termasuk kepala daerah serta legislator NasDem di berbagai daerah.
“Pengorganisasian berbasis komunitas ini harus diberi ruang lebih luas. Politik dan komunitas jangan sampai terputus,” tegasnya.
Willy menutup dialog dengan komitmen menjadikan pertemuan seperti ini agenda rutin. Menurutnya, selama ruang deliberasi terus dibuka, demokrasi Indonesia akan tetap hidup dan tumbuh.
“Kami membuka diri terus-menerus. Ruang dialog semacam ini harus hidup, karena di situlah demokrasi bekerja,” pungkasnya. (Had)
