DPR Buka Peluang Hadirkan Aurelie dalam Rapat Bahas Child Grooming
Willy mengatakan, pihaknya saat ini masih mengumpulkan data untuk mengidentifikasi para korban yang relevan, agar pembahasan bisa dilakukan secara komprehensif.
“Bisa jadi (undang). Kan korbannya bukan hanya Aurelie saja. Ada beberapa. Maka sekarang kita sedang belanja, ngumpulin semua data, mana-mana saja,” kata Willy kepada Inilah.com, Jakarta, Sabtu (17/1/2026).
Ia menjelaskan, Komisi XIII DPR juga mengkaji kemungkinan menghadirkan Aurelie secara daring mengingat perbedaan waktu dan lokasi yang berada di luar negeri.
“Kemarin itu sudah kita kaji. Masalahnya, ya bisa kita hadirkan via Zoom. Tapi apakah cocok masalah waktunya? Kalau luar negeri problemnya lebih ke teknis,” ujarnya.
Willy menegaskan, koordinasi lebih lanjut baru akan dilakukan pada pekan depan, termasuk proses pengiriman undangan resmi serta inventarisasi korban lain yang berada di dalam negeri dan memungkinkan untuk hadir secara langsung.
“Sambil menginventarisir dulu siapa korban lain yang ada di dalam negeri yang bisa kita hadirkan,” jelas Willy.
Menurut legislator dari fraksi NasDem itu, kehadiran korban secara langsung dinilai penting agar pembahasan tidak hanya bertumpu pada satu testimoni yang saat ini menjadi sorotan publik.
“Sekarang memang Aurelie yang jadi spotlight. Tapi kan enggak mungkin testimoni dari yang sudah-sudah saja. Kalau bisa, memang menghadirkan korban secara fisik di ruang sidang,” pungkasnya.
Sebelumnya, DPR berencana untuk menggelar rapat dengar pendapat umum (RDPU) terkait persoalan manipulasi terhadap anak atau child grooming yang belakangan ramai dibicarakan.
Willy Aditya saat RDP dengan Komisi Nasional (Komnas) HAM dan Komnas Perempuan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (15/1/2025) mengatakan RDPU itu nantinya akan memanggil sejumlah pihak terkait.
“Nanti kita bikin RDPU. Bahkan, kita bisa juga undang Kementerian [Pemberdayaan] Perempuan dan [Perlindungan] Anak, polisi, dan segala macam. Jadi, kita rapat gabungan saja, khusus dengan child grooming ini,” ucap Willy.
Mulanya dalam rapat tersebut, Anggota Komisi XIII DPR RI Rieke Diah Pitaloka mengangkat isu child grooming yang menjadi buah bibir warga net menyusul dirilisnya buku elektronik Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah karya pesohor Aurelie Moeremans.
Aurelie merilis bukunya itu secara gratis via akun media sosial miliknya. Buku itu lantas menjadi pembicaraan di ruang digital karena memuat memoar yang menceritakan pengalaman Aurelie kecil mendapat perlakuan manipulatif oleh orang terdekatnya.
Menurutnya, child grooming merupakan persoalan serius. Oleh sebab itu, ia menilai, negara harus bersuara segera dan memberikan perlindungan bagi korban.
