Menyemarakkan Diskursus Pancasila
Modal itu bukan hal kecil. Dalam lanskap kebangsaan yang kerap diwarnai kekhawatiran soal lunturnya nilai-nilai dasar, fakta bahwa generasi muda kita masih hafal Pancasila ialah sebuah sinyal yang menggembirakan. Ia menunjukkan perhatian anak bangsa terhadap Pancasila tidaklah padam. Sebagai nilai bersama, Pancasila masih terjaga, masih hidup, meski mungkin dalam diam.
Namun, kenyataan tersebut bukanlah sesuatu yang sudah selesai. Di sinilah pekerjaan rumah kita yang sesungguhnya dimulai. Jika kita mau jujur, diskursus tentang Pancasila di tengah publik belum benar-benar hidup. Pancasila memang dihafal, tapi belum cukup dipahami, diperbincangkan, dan dihidupkan secara merdeka oleh warganya. Pemahaman yang ada pun sering kali dangkal; bukan karena warga tidak mampu, melainkan karena selama ini ruang untuk hal tersebut memang tidak cukup tersedia.
Pemaknaan atas Pancasila terlalu lama dimonopoli negara: datang lewat kurikulum yang seragam, ceramah yang searah, dan penataran yang tidak memberikan ruang untuk menafsir lebih jauh. Warga diajak menghafal, bukan memahami; diajak menerima, bukan berdialog. Atau jika tidak, diskursus Pancasila berlangsung di ‘menara gading’, tempat para cerdik pandai bertungkus lumus dengan ketinggian intelektualitas mereka.
Padahal, sebagaimana kita tahu, Pancasila lahir dari tradisi yang sangat berbeda. Sejarah mencatat bahwa ia bukan turun dari langit dalam bentuk jadi. Ia dirumuskan melalui debat, kompromi, dan ketegangan di antara para pendiri bangsa yang datang dari latar belakang berbeda-beda: nasionalis, religius, sosialis, dsb. Mereka bertengkar, berunding, berdialektika, dan dari situ lahirlah sebuah kesepakatan yang cukup lapang untuk menampung keberagaman Indonesia. Pancasila ialah buah dari diskursus. Sudah saatnya semangat itu dikembalikan kepada warganya.
Inilah yang perlu kita lakukan bersama: menyemarakkan diskursus Pancasila. Bukan dari atas ke bawah, melainkan sebaliknya. Bukan negara yang mendefinisikan Pancasila untuk warganya, melainkan warga yang bersama-sama menemukan, mendiskusikan, dan menafsirkannya secara merdeka, dari pengalaman, pergulatan, dan kehidupan mereka sendiri. Tafsir yang datang dari warga bukan ancaman bagi Pancasila. Ia justru tanda bahwa Pancasila benar-benar hidup. Salah satu cara menyemarakkan diskursus itu ialah lewat komik.
KOMIK PANCASILA
Komik bukan media remeh. Ia ringan tanpa kehilangan kedalaman, menghibur tanpa meninggalkan substansi, dan menjangkau pembaca yang mungkin tidak akan pernah membuka buku teks filsafat. Ia berbicara lewat gambar, gerak, dan ekspresi, jauh lebih intuitif jika dibandingkan dengan deretan paragraf yang padat. Ia tidak membutuhkan latar belakang akademis untuk dinikmati dan justru karena itu, ia demokratis: semua orang bisa masuk lewat pintunya.
Di banyak negara, gagasan-gagasan besar justru pertama kali disemai lewat panel-panel gambar karena akan bertahan lama di kepala pembacanya. Komik punya cara tersendiri untuk membuat sesuatu yang abstrak menjadi terasa nyata dan dekat. Ia mengundang pembacanya untuk aktif, mengikuti alur, menafsirkan gambar, merasakan cerita. Berbeda dengan ceramah atau buku teks yang serbasatu arah, komik membuka ruang imajinasi. Imajinasi ialah pintu masuk menuju pemahaman yang lebih dalam dan lebih pribadi.
Sejauh yang diketahui, hingga kini belum ada komik yang secara serius mengajak generasi muda Indonesia berkenalan dengan Pancasila. Kekosongan itulah yang mendorong lahirnya Pancasila untuk Pemula: sebuah komik yang ditujukan untuk semua kalangan, khususnya bagi kaum muda Indonesia.
Kehadirannya tentu bukanlah bagian dari doktrin, melainkan sebagai undangan. Bukan untuk menggantikan diskusi serius tentang Pancasila, melainkan untuk membuka pintunya lebih lebar. Ia satu dari sekian tafsir merdeka yang lahir dari inisiatif warga negara; bagian dari diskursus yang memang sudah seharusnya bergulir lebih ramai.
Dengan komik, harapannya, Pancasila tidak lagi menjadi diskursus yang berat dan eksklusif. Ia menjadi percakapan yang bisa terjadi di mana saja: di kamar tidur, di angkot, di warung, atau di sela-sela waktu luang. Dari kenyataan seperti itulah pemahaman yang genuine tumbuh. Pemahaman yang tidak dipaksakan, yang datang dari kesadaran sendiri.
PANCASILA YANG OPERASIONAL
Harapan lebih jauhnya ialah tumbuhnya kebudayaan Pancasila. Sebuah kebudayaan yang menghidupi Pancasila, sekaligus kebudayaan yang dilahirkan Pancasila itu sendiri. Di antara keduanya terjadi dialektika yang terus bergerak: diskursus yang semarak dari bawah dan melahirkan pemikiran-pemikiran tentang bagaimana Pancasila dipahami, dimaknai, dan dioperasionalisasikan, dan operasionalisasi itu pada gilirannya melahirkan diskursus yang baru. Demikian seterusnya. Justru dialektika yang tak pernah berhenti itulah yang menjadi wujud sejati kebudayaan Pancasila.
Itulah muara dari semua ini. Diskursus Pancasila yang semarak bukanlah tujuan akhir. Ia jalan menuju tumbuhnya entitas warga negara yang sesungguhnya sebab Pancasila yang kuat bukan Pancasila yang sekadar dihafal, melainkan yang operasional, yang ‘bunyi’ dalam realitas kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pancasila yang operasional bukan sesuatu yang datang dari dekrit atau instruksi. Ia tumbuh dari bawah; dari warga yang paham akan hak dan kewajibannya. Yang tahu bahwa Pancasila bukan sekadar simbol di atas kertas, melainkan juga kerangka nyata untuk membangun kebaikan bersama, mendorong kebijakan yang berpihak, dan membangun relasi yang setara antara negara dan warganya.
Diskursus yang semarak ialah tanah subur bagi kesadaran semacam itu. Ketika Pancasila diperbincangkan secara luas dan merdeka, di warung kopi, di ruang kelas, di media sosial, di halaman komik, ia tidak lagi terasa asing. Ia menjadi bahasa yang menubuh dan menjadi kesadaran, kerangka yang intuitif, dan akhirnya alat yang fungsional di tangan warga negara yang berdaya.
Itulah lingkaran yang ingin kita bangun: dari diskursus menuju pemahaman, dari pemahaman menuju kesadaran, dari kesadaran menuju tindakan. Tindakan itulah yang membuat Pancasila sungguh-sungguh operasional, bukan di atas kertas, bukan di dalam pidato, melainkan di dalam cara kita berbangsa dan bernegara di setiap perikehidupannya.
Pancasila untuk Pemula ialah salah satu langkah kecil dalam perjalanan panjang itu. Ia lahir dari keyakinan bahwa diskursus yang semarak dimulai dari percakapan yang sederhana, dari selembar halaman yang dibaca dengan santai, lalu mengendap, lalu pelan-pelan mengubah cara seseorang memandang dirinya sebagai warga bangsa dan negara.
Bukan warga yang pasif menunggu negara, melainkan warga yang sadar, yang berdaya, dan yang tahu bahwa Pancasila ialah miliknya juga. Bahwa ia berhak menafsirnya, mempercakapkannya, dan menghidupkannya, bukan karena diperintah, melainkan karena memang itulah hakikat menjadi bagian dari bangsa ini.
