ALAM TAKAMBANG JADI GURU : Refleksi Seabad Ruang Pendidik INS Kayutanam, 1926–2026
Refleksi Seabad Ruang Pendidik INS Kayutanam, 1926–2026
Oleh Willy Aditya*
Ada sebuah ungkapan yang pernah populer: berpikirlah seperti orang Minang, bekerjalah seperti orang Jawa, dan berbicaralah seperti orang Batak. Tentu ini bukan rumusan ilmiah tentang karakter etnis, melainkan sebuah metafora tentang kekayaan watak dan kebudayaan Nusantara. Sebuah metafora yang lahir dari seorang manusia yang tahu apa itu kemanusiaan. Seorang yang berasal dari Kalimantan namun terkesima dengan orang-orang Minang saat dia berdinamika dan berdialektika dengan kaum Republikan di Manggarai, Jakarta, di masa pergerakan.
Dalam sejarah Indonesia modern, Minangkabau pernah menjadi salah satu episentrum pendidikan dan persemaian gagasan kebangsaan. Dari surau, perguruan, hingga ruang-ruang perdebatan intelektual, lahir manusia-manusia yang bukan hanya terpelajar, tetapi juga memiliki keberanian untuk mempertanyakan zamannya.
Di tengah bentang sejarah itulah, pada 31 Oktober 1926, Mohammad Sjafei, nama orang itu, mendirikan Indonesisch Nederlandsche School (INS) di Kayutanam, Sumatera Barat.
INS adalah sebuah ikhtiar pendidikan yang pada zamannya boleh dikatakan radikal. Bukan karena bangunannya yang megah, bukan pula karena kurikulumnya yang rumit. Justru karena Sjafei mengajukan pertanyaan mendasar: untuk apa manusia bersekolah jika pendidikan justru menjauhkannya dari kehidupan?
Seratus tahun kemudian, pertanyaan itu ternyata belum kehilangan relevansinya.
Pendidikan bukanlah kosmetik intelektual
Beberapa tahun silam, ketika mengantarkan anak saya ke taman kanak-kanak, saya diperkenalkan dengan STIFIn, sebuah metode yang mengklaim dapat mengenali kecenderungan bakat seseorang melalui sidik jari.
Terlepas dari validitas ilmiah klaim tersebut, pengalaman itu langsung mengingatkan saya kepada INS Kayutanam. Jauh sebelum berbagai metode identifikasi bakat menjadi populer, Engku Sjafei telah mengembangkan pendekatan yang sangat berbeda: menemukan kemampuan manusia melalui pengalaman empiris, interaksi dengan alam, kerja, dan kehidupan sehari-hari.
Bagi Sjafei, manusia bukanlah sekumpulan angka yang harus diperingkat berdasarkan kecerdasan akademik. Manusia adalah makhluk yang memiliki potensi, kehendak, keterampilan, dan jalan hidupnya masing-masing. Karena itu, pendidikan tidak boleh berhenti pada intelektualisme yang menjadi kosmetik kehidupan.
Apa gunanya seseorang begitu fasih berbicara tentang teori sosial, tetapi tidak mampu berinteraksi dengan lingkungan terdekatnya? Apa artinya kecerdasan yang tinggi jika untuk menjahit kancing baju yang putus saja ia tidak mampu?
Di INS, kerajinan tangan, keramik, anyaman, pertanian, musik, lukisan, drama, dan sastra bukanlah pelajaran tambahan untuk mengisi waktu luang. Semuanya merupakan piranti kehidupan. Cara manusia mengenali kemampuan dirinya sekaligus memecahkan persoalan konkret yang dihadapinya.
Filosofinya sederhana: alam takambang jadi guru.
INS tidak berpretensi menjadikan setiap orang sebagai manusia yang serba bisa. Sebaliknya, INS mempertemukan setiap orang dengan berbagai pengalaman agar ia menemukan apa yang sungguh-sungguh menjadi kekuatannya.
Jangan memaksa pohon mangga berbuah rambutan. Jadikanlah setiap pohon menghasilkan buah terbaik sesuai kodratnya.
Hampir tinggal kelas karena melukis
Ketika pertama kali memutuskan bersekolah di INS Kayutanam, saya menerima tidak sedikit cemoohan.
“Untuk apa masuk sekolah itu? Sekolah pembuat sabun?”
Maklum, ketika itu saya termasuk anak yang memiliki prestasi akademik cukup baik. Dalam pandangan umum, anak dengan nilai matematika, kimia, dan biologi yang bagus seharusnya masuk sekolah unggulan sebagaimana ukuran keberhasilan pendidikan yang lazim berlaku.
Tetapi justru di lereng Bukit Tambun Tulang, saya menemukan kenyataan yang sama sekali berbeda. Ternyata kehidupan bukan sekadar perkara nilai matematika sepuluh, kimia sepuluh, atau biologi sepuluh. Saya menemukan bahwa diri saya ternyata buta nada. Tidak bisa memainkan alat musik apa pun. Bahkan suara saya sendiri rasanya tidak layak dimasukkan ke dalam kategori alat musik. Sebaliknya, teman sekamar saya yang kemampuan matematika dan biologinya jauh di bawah saya justru memiliki bakat musik luar biasa.
Suatu ketika dia mendapatkan biola. Selama hampir seminggu, siang dan malam, dawai-dawai itu terus digeseknya. Sampai-sampai karena tidak tahan, saya pernah menyiramnya dengan air! Tetapi apa yang terjadi? Dalam waktu singkat ia sudah mampu memainkan biola dengan sangat baik. Di situlah saya mulai memahami sesuatu: kecerdasan ternyata tidak memiliki satu wajah.
Pengalaman yang lebih tragis terjadi dalam pelajaran melukis. Bayangkan, saya yang menjadi juara akademik justru hampir tidak naik kelas karena tidak bisa melukis! Tugas melukis wajah sendiri tidak pernah berhasil saya selesaikan. Akhirnya, daripada terus menyiksa diri dengan kuas dan cat, saya lebih banyak ditugaskan membuat kanvas.
Ketika pengumuman kenaikan kelas tiba, nama saya dipanggil sebagai juara umum. Dosen melukis saya hanya tersenyum mesem sambil berujar, “Untung kau kukasih nilai enam. Kalau tidak, kau tidak akan naik kelas!”
Hahahaha.
Saya tidak pernah melupakan peristiwa itu.
Di INS, nilai matematika sepuluh tidak membuat saya lebih tinggi daripada teman yang mahir memainkan biola. Sebaliknya, ketidakmampuan saya melukis juga tidak membuat saya kehilangan martabat sebagai manusia. Di situlah saya belajar bahwa kesetaraan bukan berarti menyeragamkan kemampuan, melainkan menghormati perbedaan kemampuan setiap manusia.
INS mempertemukan saya dengan kemanusiaan saya sendiri. Bukan melalui ceramah moral, melainkan melalui pengalaman yang terkadang lucu, memalukan, bahkan menyakitkan ego seorang anak yang terbiasa menjadi juara kelas.
Tidak ada murid, semua adalah manusia yang belajar
Ada satu hal yang membedakan INS dari kebanyakan sekolah. Kami tidak dibiasakan memandang diri semata-mata sebagai murid atau siswa. Ruang kelas bahkan disebut Ruang Dewasa (RD). Istilah ini bukan sekadar permainan bahasa. Di dalamnya terkandung pandangan filosofis bahwa pendidikan merupakan perjumpaan manusia dengan manusia lainnya dalam kedudukan yang setara.
Tukang pemotong rumput, tukang masak, ustaz, dosen, dan anak-anak yang sedang belajar merupakan bagian dari ekosistem pendidikan yang sama. Mereka memiliki pengalaman dan pengetahuan yang berbeda, tetapi masing-masing dapat menjadi guru bagi yang lain. Di INS, otoritas pengetahuan tidak dimonopoli oleh seseorang hanya karena gelar, jabatan, atau kedudukannya.
Saya teringat sebuah peristiwa pada 1996, menjelang ujian EBTANAS. Ketika sekolah-sekolah lain sedang sibuk mempersiapkan murid menghadapi ujian, Engku Navis justru meliburkan kegiatan belajar rutin kami. Alasannya, INS akan menjadi tempat berlangsungnya Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN). Kami semua diminta bekerja. Membangun dan menyiapkan fasilitas, termasuk gelanggang atau teater terbuka yang akan digunakan dalam perhelatan tersebut.
Barangkali, bagi ukuran pendidikan konvensional, keputusan itu terdengar aneh. Mengapa anak-anak yang hendak mengikuti ujian nasional justru disuruh bekerja membangun fasilitas? Tetapi di situlah letak pendidikan INS. Siapa lagi yang akan membangun dan merawat sekolah jika bukan orang-orang yang hidup di dalamnya? Kami tidak hanya diajarkan menikmati fasilitas pendidikan, tetapi juga bertanggung jawab terhadap keberlangsungannya.
Pendidikan bukan semata-mata hak untuk memperoleh pengetahuan. Pendidikan juga merupakan kesediaan untuk bekerja, merawat, dan mengambil tanggung jawab terhadap ruang hidup bersama. Dalam bahasa yang lebih luas, itulah benih-benih republikanisme: kebebasan yang bertemu dengan tanggung jawab terhadap kepentingan bersama.
Belajar filsafat, berdebat, hingga menertawakan diri sendiri
Hal lain yang membuat INS begitu istimewa adalah keberanian memperkenalkan anak-anak belia kepada dunia pemikiran yang tidak sederhana. Bayangkan, anak-anak yang baru memasuki usia akil balig sudah bersentuhan dengan bacaan Søren Kierkegaard, Friedrich Nietzsche, Martin Heidegger, dan berbagai pemikir lainnya.
Sastra menjadi makanan keseharian. Dari tetralogi Pramoedya Ananta Toer, karya-karya Iwan Simatupang, hingga tulisan-tulisan A.A. Navis yang penuh satire dan kenakalan intelektual. Bacaan tersebut tidak dimaksudkan untuk menjadikan kami filsuf kecil yang gemar memamerkan istilah rumit. Justru sebaliknya, kami diperkenalkan pada keragaman pemikiran agar terbiasa mempertanyakan sesuatu, termasuk apa yang dianggap benar oleh orang-orang dewasa.
Setiap dua kali sebulan diselenggarakan forum diskusi yang dipandu sendiri oleh anak-anak INS. Temanya beragam, dari persoalan sosial, politik, kebudayaan, hingga agama. Perdebatan menjadi bagian dari kehidupan. Kami belajar bahwa berbeda pendapat bukanlah ancaman terhadap persaudaraan. Kritik bukanlah bentuk permusuhan. Dan mempertanyakan otoritas bukan berarti kehilangan rasa hormat.
Tradisi itu juga hidup dalam kegiatan kesenian. Setiap malam Minggu, kamar-kamar menampilkan kreativitasnya. Ada musik, drama, pembacaan puisi, hingga berbagai pertunjukan yang tidak jarang menjadikan dosen dan sesama anak INS sebagai sasaran olok-olok. Kalau menggunakan istilah anak-anak sekarang, kami sudah terbiasa melakukan roasting jauh sebelum istilah itu populer.
Hahahaha.
Tetapi justru di situlah keakraban dibangun. Kritik tidak selalu hadir dengan wajah tegang. Ia bisa datang melalui humor, satire, dan kesenian. Tulisan-tulisan dosen dan anak-anak INS juga menghiasi media lokal maupun nasional. Bahkan puisi Pandu Birowo pernah meraih prestasi dalam peringatan 50 tahun kemerdekaan Indonesia yang diselenggarakan ANteve.
Bagi kami, menulis, membaca, berdebat, dan berkesenian bukan aktivitas yang terpisah dari kehidupan. Semuanya adalah bagian dari proses menjadi manusia. INS tidak mengajarkan kami apa yang harus dipikirkan. INS memberikan keberanian untuk berpikir.
Lebih tua daripada Republik
Ada satu peristiwa yang terus membekas dalam ingatan saya. Pada 1996, menjelang Pemilu, sekelompok orang dari organisasi politik peserta pemilu datang ke INS Kayutanam. Mereka bermaksud melakukan sosialisasi politik kepada kami. Namun, baru sampai di gerbang kampus, mereka dihadang oleh Pak Wisran Hadi, yang ketika itu menjabat Direktur Kerohanian. Dengan gagah berani beliau mengusir rombongan tersebut. Saya masih mengingat pesan yang disampaikannya, kurang lebih:
“Kalian tahu, sebelum Republik ini berdiri, sekolah ini sudah berdiri untuk memerdekakan Indonesia!”
Peristiwa itu mengandung pelajaran politik yang sangat mendalam. INS lahir pada 1926, jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Artinya, cita-cita kemerdekaan telah lebih dahulu hidup dalam ruang pendidikan, kebudayaan, dan kesadaran manusia sebelum memperoleh bentuk sebagai negara.
Engku Sjafei memahami bahwa kemerdekaan politik tidak akan memiliki makna yang utuh tanpa kemerdekaan manusia. Bangsa yang merdeka membutuhkan manusia-manusia yang mampu berpikir sendiri, bekerja dengan tangannya sendiri, dan menentukan sikap berdasarkan kesadarannya sendiri. Itulah sebabnya pendidikan tidak boleh sekadar menjadi instrumen kekuasaan, apalagi tempat memproduksi kepatuhan.
Bagi saya, peristiwa di gerbang INS tersebut bukanlah pelajaran untuk membenci politik. Justru sebaliknya, saya belajar bahwa politik yang bermartabat harus bertumpu pada manusia yang merdeka. Kemerdekaan berpikir adalah prasyarat bagi kemerdekaan politik.
Ketika warisan berhadapan dengan para pewaris
Kini, satu abad telah berlalu. Seharusnya ini menjadi momentum besar untuk merayakan salah satu eksperimen pendidikan paling orisinal yang pernah dilahirkan Indonesia. Namun, saya tidak ingin menjadikan peringatan seabad INS sekadar perayaan nostalgia. Ada kenyataan pahit yang harus dihadapi. Ruang pendidikan yang pernah melahirkan begitu banyak pengalaman kemanusiaan itu kini menghadapi persoalan serius mengenai keberlangsungannya.
Konflik yang tidak kunjung selesai di antara pihak-pihak yang mengklaim diri sebagai pewaris telah menyita energi yang semestinya digunakan untuk merawat dan mengembangkan cita-cita pendirinya. Padahal INS berdiri di atas semangat wakaf, sebuah pengabdian yang seharusnya melampaui kepentingan pribadi dan kelompok. Di sinilah letak ironi yang paling menyedihkan.
Sebuah lembaga yang didirikan untuk memerdekakan manusia justru terancam oleh hasrat menguasai warisannya. Kita seolah lupa bahwa warisan terbesar Engku Sjafei bukanlah tanah, bangunan, atau kedudukan dalam struktur pengelolaan. Warisan terbesarnya adalah sebuah cara pandang terhadap manusia.
Persoalannya tidak berhenti pada konflik kelembagaan. Berulang kali INS juga berhadapan dengan cara berpikir pendidikan yang hendak memasukkannya ke dalam sistem pengelolaan seragam, standar, pabrikan, bahkan komersial. Seakan-akan keberhasilan pendidikan hanya dapat diukur melalui jumlah murid, nilai ujian, kelengkapan administrasi, dan kemampuan menghasilkan keuntungan. Tentu setiap lembaga pendidikan membutuhkan tata kelola yang baik, akuntabilitas, dan keberlanjutan pembiayaan. Namun, tata kelola seharusnya melayani filosofi pendidikan, bukan menggantikannya.
INS memang perlu beradaptasi dengan zaman. Tetapi adaptasi tidak boleh berarti kehilangan identitas.
Saya tidak sedang mengajak kita mengembalikan INS secara romantis kepada masa lalu. Zaman telah berubah. Teknologi berkembang, kebutuhan masyarakat bergeser, dan tantangan pendidikan semakin kompleks. Justru karena itu, gagasan Engku Sjafei perlu dibaca kembali secara kritis.
Mengapa setelah seratus tahun, ketika dunia pendidikan semakin sibuk membicarakan kreativitas, berpikir kritis, kolaborasi, dan keterampilan hidup, eksperimen pendidikan yang pernah mempraktikkan semua itu justru tidak berkembang menjadi sumber inspirasi yang lebih luas?
Mengapa kita begitu mudah mengimpor berbagai konsep pendidikan dari luar, tetapi sering gagal merawat khazanah pemikiran yang tumbuh dari pengalaman kebudayaan kita sendiri?
INS tidak harus direplikasi secara mekanis di setiap tempat. Sjafei sendiri memahami bahwa setiap lingkungan memiliki karakter dan kebutuhan berbeda. Namun, prinsip-prinsipnya dapat menjadi inspirasi bagi pendidikan Indonesia. Yang perlu diwariskan bukanlah bentuk sekolahnya, melainkan keberanian berpikir yang melahirkannya.
Dan mungkin inilah pertanyaan paling mendasar dalam seabad INS Kayutanam: apakah kita sungguh-sungguh ingin mewarisi cita-cita Engku Sjafei, atau hanya ingin menguasai peninggalannya?
Janji di lereng bukit Tambun Tulang
Seratus tahun adalah perjalanan panjang. Dalam sejarah, banyak hal besar pernah lahir, tumbuh, kemudian hilang. Bangunan dapat runtuh, lembaga dapat mengalami kemunduran, dan generasi demi generasi datang silih berganti. Tetapi gagasan yang benar-benar hidup dalam diri manusia tidak mudah dihapuskan.
Saya sendiri mungkin tidak akan pernah menjadi pelukis. Tidak pula menjadi pemain biola. Bahkan sampai hari ini, persoalan nada masih menjadi salah satu kelemahan saya.
Hahahaha.
Namun, INS telah memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada seluruh nilai akademik yang pernah saya peroleh. INS mempertemukan saya dengan kemanusiaan saya sendiri. Di lereng Bukit Tambun Tulang, saya belajar bahwa manusia tidak ditentukan oleh satu ukuran kecerdasan. Bahwa setiap orang memiliki jalan hidup dan takdir Tuhan yang berbeda-beda.
Saya belajar menghargai orang yang bekerja dengan tangannya, orang yang berkarya dengan imajinasinya, orang yang berpikir dengan akalnya, dan orang yang mengabdi dengan seluruh hidupnya.
Saya belajar bahwa menjadi manusia bukan sekadar tentang pencapaian pribadi, melainkan tentang nilai guna keberadaan kita bagi manusia lainnya. Barangkali itulah yang kemudian menjadi salah satu kompas dalam perjalanan hidup saya: menjadi manusia yang berusaha memanusiakan manusia lain.
Engku Sjafei pernah mengajarkan pentingnya totalitas dalam menentukan jalan hidup. Bagi kami, pesan itu menemukan simbolnya pada dua warna seragam INS: hitam dan putih.
Putih adalah putih. Hitam adalah hitam.
Bukan berarti kehidupan selalu sesederhana dua warna. Kehidupan justru penuh kerumitan, pertentangan, dan wilayah abu-abu. Tetapi dalam perkara prinsip, manusia harus memiliki keberanian untuk menentukan sikap. Katakan putih pada kebenaran, dan katakan hitam pada kezaliman!
Jangan menjadikan kecerdasan sebagai alasan untuk membenarkan ketidakadilan. Jangan menjadikan pengetahuan sebagai alat untuk menutupi kemunafikan. Dan jangan menjadikan pendidikan sebagai tangga untuk merasa lebih tinggi daripada manusia lainnya.
Saya tidak dapat hadir secara fisik dalam peringatan seabad INS Kayutanam karena keadaan kesehatan. Tetapi pikiran dan sebagian besar perjalanan batin saya tetap berada di sana. Di tanah Pelabihan, di lereng Bukit Tambun Tulang, tempat seorang anak yang dahulu dicemooh karena memilih “sekolah pembuat sabun” justru menemukan salah satu pelajaran terpenting dalam hidupnya.
Kepada seluruh keluarga besar INS, saya ingin menyampaikan satu ajakan sederhana.
Marilah kita berhenti sejenak menghitung siapa yang paling berhak mewarisi Engku Sjafei, dan mulai menghitung berapa banyak anak Indonesia yang masih dapat kita merdekakan melalui pendidikan.
Jika kita sungguh mencintai INS, buktikanlah dengan kerja. Jika kita sungguh menghormati Engku Sjafei, teruskanlah cita-citanya. Dan jika kita sungguh merasa sebagai pewaris, jangan hanya mewarisi nama besarnya. Warisilah keberanian berpikir, ketulusan mengabdi, dan kesediaannya bekerja untuk manusia lain. Sebab republik ini tidak kekurangan orang yang mengaku sebagai pewaris sejarah. Yang sering kali kurang adalah manusia yang bersedia melanjutkan pekerjaan sejarah.
INS Kayutanam tidak boleh berhenti sebagai kenangan. Ia harus kembali menjadi gerakan pemikiran dan kerja pendidikan. Kalaupun kelak bangunan-bangunannya berubah, pengurusnya berganti, atau bentuk kelembagaannya tidak lagi sama, cita-cita itu harus tetap hidup. Karena pada akhirnya, INS bukan sekadar sekolah. INS adalah ikhtiar memerdekakan manusia. Dan kemerdekaan tidak pernah diwariskan melalui akta kelahiran. Ia harus diperjuangkan, dipraktikkan, dan dipertanggungjawabkan oleh setiap generasi.
Itulah janji kita kepada Tanah Pelabihan. Itulah utang sejarah kita kepada Engku Sjafei. Dan itulah tanggung jawab kita kepada generasi yang belum lahir.
Selamat satu abad, INS Kayutanam. Alam takambang jadi guru.
Jangan hanya menjadi ahli waris Engku Sjafei. Jadilah penerus cita-citanya.
*Alumnus INS Kayutanam
