Posted on / by Willy Aditya / in Catatan

Malam Ramadhan

Ini malam, tak seperti malam sebelumnya. Aku terjaga bukan membasuh muka untuk berpacu menyapaMu untuk bermesraan dalam tasbih. Atau malam di tahun 2005 dimana aku sibuk membuat statemen aksi untuk mencatatkan diri dalam sejarah pergerakan bahwa demonstrasi pada hari lebaran pernah kami lakukan…

Ini malam, tak seperti malam dimana aku datang mengepalkan keberanian dan menalikan ketakutan pada bibir yang terbata-bata, pada tangan yang mendingin serta pada pertemuan meminta kau dari orang tuamu… malam itu, aku ingat sekali di bumi Parahyangan dari Utara ke Selatan, aku tempuh dengan penuh misteri… wahai malam-malam yang sudah kulalui di kaki Tangkuban Perahu adalah saksi bahwa hidup penuh ambarawa….

Ini malam, tak seperti malam dimana aku meronda menunggu kedatanganmu, hai Alif! Dimana sepanjang puasa, aku mondar-mandir Jakarta-Jogjakarta untuk mengetuk kelahiranmu. Dalam malamMu, kucoba untuk menyerahkan sebagian dari hidupku bahwa menyabung nyawa untuk meneruskan kekhalifahan di alam ini… namun kau memilih sendiri jalanmu setelah orang-orang berkemas dalam arus balik….

Ini malam, tak seperti malam pada lazimnya, sebagai keluarga yang hidup dalam budaya Timur, kita punya ruang bersama untuk bercanda bahwa ikat silahturahmi adalah kewajiban antar sesama apalagi terhadap keluarga. Ini malam pulalah yang menyeret aku untuk tergoda kembali pada adab masa lalu ditengah hidup yang sudah menjadi rutin… malam itu sesingkat sms di handphone-ku, sebotol wine, kau tuangkan ke gelas untuk memulai perbincangan yang memabukkan aku, diantara pajangan jam-jam tangan koleksimu, kau bercerita tentang lukisan Moses karya Daud Jusuf…

Ini malam, seperti malam dalam kanak-kanakku, dimana aku menjajakan kerupuk leak di halaman masjid Nurul Yaqin di kampung halamanku. Sebelum aku datang, sebuah artikel kukirim sebagai penanda aku akan merayakan lebaran di ranah Minang. Malam ini, adalah malam bagi seorang Bapak untuk mengajarkan pada anak bagaimana menghormati sejarah, mengenali dialektika peradapan serta memelihara keluarga.

 

Solok, 18 September 2009

Tinggalkan Balasan