Posted on / by Willy Aditya / in Buku

Mari Bung Rebut Kembali!

ISBN : 978-602-96184-3-3

Cetakan Pertama : Juli 2012

Bahasa: Indonesia

Penerbit: PT. Gramedia Jakarta

 

PENGANTAR

Tung Desem Waringin, seorang motivator dan pembicara ternama di negeri ini pernah bercerita tentang seorang India yang menjadai salesman di Amerika.

Si India ini tidak pandai betul berbahasa Inggris, namun setiap orang yang didatanginya selalu tertarik dengan apa yang ditawarkan oleh si India ini, hingga akhrinya bisa meraih kesuksesan.

Apa rahasianya? Tung Desem mengatan: SEMANGAT! Setia kali memasarkan produknya, si India selalu menyampaikan dengan antusiasme tinggi. Bahasa Inggris-nya yang belepotan tidak dipedulikannya. Ia hanya peduli pada satu hal, yaitu menyampaian dengan gairah tinggi.

Semangat adalah sifat yang menular. Seorang pemimpin yang ingin membangkitan semangat kelompoknya tanpa ia memiliknya terlebih dahulu, akan sia-sialah apa yang dilakukannya.

Syarat seorang pemimpin agar bisa membangkitkan semangat suatu kelomponya adalah yang bersangkutan harus memiliki semangat lebih dulu dalam dirinya. Syarat seperti inilah yang ada pada diri Surya Paloh. Syarat itu bahkan sudah demikian menyatu dalam jiwa dan raga pengagum Bung Karno ini.

Kekagumannya pada Bung Karno, tercermin betul dalam “genre” pidatonya: berapi-api dengan intonasi tinggi dan penuh semangat. Hampir bisa dikata, hanya Bung Surya-lah – panggilan akrabnya – saat ini yang memiliki tipologi pidato semacam ini dibandingkan tokoh-tokoh bangsa lainnya.

Memperhatikan sejak pertama kali saya mengenalnya, corak semacam ini memang melekat betul dalam diri Surya Paloh. Dalam obrolan-obrolan keseharian, antusiasme tidak pernah lepas dari gaya komunikasinya. Bahasanya yang lugas, tegas, dan tidak bertele-tele, menjadi ciri khasnya.

Jika dihampiri dengan kaidah-kaidah berpidato. Surya Paloh termasuk dalam kategori “impromtuer” (istilah saya sendiri). Maksud saya adalah dia termasuk orang yang sering menggunakan media impromptu dalam pidato-pidatonya. Sangat jarang dia menggunakan naskah dalam pidato-pidatonya, jika tidak disebut tidak pernah sama sekali. Dia lebih suka berbicara spontan, tanpa persiapan yang berarti. Cara seperti ini tentu ada kekurangan dan kelebihannya seperti juga metoda-metoda lain.

Kelebihan dari model impromptu adalah penyampaiannya yang natural. Isinya orisinil dan ia keluar dari dalam hati dan pengetahuan si pembicara. Ia tidak direka-reka dan palsu. Ditambah lagi, model impromptu mudah dimainkan sekehendak si orator. Naik-turun dan liak-liuk pidato bisa dengan mudah diatur sesuai suasana emosi audiens. Buat yang mendengarkan, model impromptu akan terasa lebih dekat secara psikologis. Karena itulah Bung Surya suka denga gaya ini. Semangatnya yang tinggi kompatibel dengan gaya pidato yang satu ini.

Rasanya tidak kebetulan juga adanya jika Bung Surya selalu menekankan kepada khalayak untuk membuang jauh sifat pura-pura menjadi keterus-terangan; dari sita hipokrit manjadi sebuah kejelasan; dari mencla-mencle atau ragu-ragu manjado ketegasan. Inilah materi yang hampir menjadi “kalimat wajib” yang disampaikan Surya Paloh di banian kesempatan saat berpidato, mulai dari pidato di Senayan saat deklarasi organisasi kemasyarakatan (ormas) Nasional Demokrat pada 2010 lalu hingga piado di acara pelantikan Liga Mahasiswa NasDem di Akademi Maritim Jayadayat, Jakarta Utara, Mei 2012.

Seringnya Surya Paloh merepetisi kalimat-kalimat tertentu tidak terlepas dari kegelisahannya melihat kondisi bangsa ini. Berjaraknya antara ucapan dan kenyataan, janji yang terlontar dari para elit negeri ini, membuatnya tak bosan mengulang-mengajak khalayak untuk berani berterus terang dan menjauhi sikar berpura-pura. Baginya, problem moral inilah yang membuat terpuruknya bangsa yang besar ini.

Pengulangan-pengulangan ini pika ditilik dari sudut teoritis tentu memiliki dampak cukup besar. Dalam literatura komunikasi, ada adigium yang menyatakan “kebohongan sekalipun, jika ia disampaikan terus-menerus akan menjadi sebuah kebenaran.” Inilah yang terjadi saat Perang Dunia II berkecamuk. Saat itu perang tidak hanya terjadi antar senjata, melainkan juga antar propaganda.

Jiak dihampiri dengan pendekatan kultural, ajakan Surya Paloh ini akan mendapatkan batu karang yang amant sangat kokoh. Namun, upayanya yang terus menerus ini  menjadi nilai tersendiri dalam sebuah perjuangan.

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang diurnal suntan dan puny “ungguh-ungguh” Salam berinteraksi dan berkomunikasi. Sikap hipokrit dan segan untuk berterus-terang sedikit banyak dipengaruhi oleh kultur semacam ini. Namun, ada ungkapan, sekeras apapun batu, jika terus menerus ditetesi air, ia akan berlubang juga.

Saya pikir ungkapan tersebut tidak berlebihan jika diselaraskan dengan apa yang dipikirkan, diucapkan, dan diperjuangkan Surya Paloh. Perubahan selalu membutuhkan kepeloporan. Eropa dan Amerika, serta negara belahan duna lainnya, sellar menghadirkan kepeloporan tersebut. Lewat orasi dan retorika, mereka menggelorakan semangat perlawanan terhadap keadaan.

Amerika adalah negara yang diurnal dengan kepiawaian pemimpinnya dalam berpidato. Abraham Lincoln, John F. Kennedy, dan yang terahir Barrack Obama. Mereka adalah presiden Amerika yang dikenal dunia. Kemampuan pidato mereka sangat memikat, karena ditunjang oleh kultur mereka yang terbuka dan keleluasaan untuk berterus terang dalam kehidupan berbangsa dan bernegaranya. Bandingkanlah itu dengan Bangsa kita saat ini!

Kemampuan berpidato dengan sangat baik berbanding lurus dengan kemampuan berdiplomasi; dan siapa yang mampu berdiplomasi dengan baik, dialah yang akan mendapatkan suatu kuasa. Lihatlah siapa yang menguasai dunia hari ini. Romo YB Mangunwijaya percha mengatakan, keunggulan Amerika menguasai dunia saat ini tidaklah ditentukan ole persenjataan dan kemajuan teknologinya, akan tetapi karena kapasitas komunikasi mereka.

Di sini, saya Kira, tepatlah apa yang dilakukan Bung Surya. Ada titik sambung antara model dan isi yang ingin disampaikan; antara hasta dan nilai yang ingin dibangun. Surya Paloh menyampaikan ajakan untuk bersikap terus terang letat model pidato yang “jujur”, impromtu. Dia ingin membangun bangsa yang maju lewat sebuah kultur yang jujur, tidak berpura-pura, dan jauh dari sita munafik. Inilah titia sambung yang disajikan olehnya. Dan sesungguhnya, inilah poin penting dari piado-pidato yang banyak tersambung olehnya di berbagai forum.

Buku ini berisi enam belas pidato Surya Paloh salam berbagai acara dan kesempatan sejak than 2010 sampan 2012 dengan berbagai tema dan bentuk.Seluruh tema pitado tersebut besaras pada mainstream spirit kebangsaan. Surya Paloh tidak pernah meninggalkan semangat kebangsaan dalam pidato-pidatonya. Sebagai seorang nasionalis, hal tersebut tentulah agenda utamanya. Sebagai orang pergerakan, dia tidak akan berhenti menyampaiakan pikiran dan semangatnya lewat pidato-pidatonya.

Saya berharap buku ini bisa menjadi “alat rekam abadi” bagi pemikiran-pemikiran Surya Paloh, dan menjadi sumbangsih dalam memajukan peradaban bangsa ini.

 

Jakarta, Juli 2012

Willy Aditya

 

 

Tinggalkan Balasan