Posted on / by Willy Aditya / in Berita

Partai NasDem Komitmen Perjuangkan RUU Pendidikan Kedokteran, IDI Ungkap Masalah Klasik Dunia Medis

Partai NasDem terus berkomitmen untuk mengawal RUU Pendidikan Kedokteran yang saat ini tengah dibahas di DPR RI.

Sebab, urgensi revisi regulasi begitu sangat diperlukan dalam pendidikan kedokteran.

Hal itu mengemuka dalam Diskusi bertajuk “Restorasi Humanisme Pendidikan Kedokteran” yang berlangsung di Kantor DPW NasDem Jawa Timur di Jalan Arjuno Surabaya, Selasa (8/6/2021).

Anggota Fraksi NasDem yang juga Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI Willy Aditya mengatakan, pihaknya memang terus getol memperjuangan hal tersebut. Bahkan, sejak periode sebelumnya.

“Ini sudah diperjuangkan dari tahun 2014 oleh Bu Yayuk dari Dapil Jatim. Beliau seorang dokter. Ini menjadi sebuah koneksitas janji politik yang to be continued. Bukan ujug-ujug, itu kami perjuangkan,” kata Willy Aditya.

“Setelah periode berganti, 2019 Partai NasDem tetap konsisten memperjuangkan revisi itu.

Kebetulan ada saya yang menjadi wakil ketua badan legislasi dan juga dapilnya dari Jawa Timur,” terang Willy menambahkan.

Urgensi revisi UU tentang Pendidikan Kedokteran diyakini dapat membenahi sistem pendidikan kedokteran nantinya.

Kualitas dan semacamnya nantinya diyakini bakal semakin membaik untuk kebutuhan tenaga medis.

Apalagi menurut Willy, kemajuan informasi teknologi ke depan akan berseiring dengan ketatnya persaingan. Sehingga, segala hal perlu terus dilakukan adaptasi.

“DPR sekarang sudah membentuk Panja. Kami sekarang sedang belanja masalah ke fakultas-fakultas kedokteran,” ujar Willy sembari mengungkapkan jika pihaknya bakal terus berkeliling ke sejumlah kampus.

Menurut Willy hal itu penting untuk terus menghimpun beragam persoalan yang bisa ditampung untuk menjadi pijakan.

Disisi lain, seluruh stakeholder memang perlu menyamakan koneksi dan persepsi agar tak ada ego sektoral.

“Target saya sebagai ketua panja adalah masa sidang ke depan, sudah selesai sebagai inisiatif dari DPR,” tambah Willy.

Dalam diskusi tersebut, berbagai pihak hadir untuk turut menyampaikan pandangan dan gagasan.

Di antaranya adalah dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI) serta dari Pakar Kesehatan lainnya.

Ketua PB IDI dr Daeng M Faqih, SH MH mengungkapkan, di antara persoalan klasik yang dihadiri dunia medis adalah pemerataan distribusi dokter.

Selain itu, adalah terkait akses untuk pendidikan kedokteran.

“Biaya masuk yang begitu mahal, masalah klasik yang lama gak selesai,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, dengan kemajuan teknologi saat ini, para dokter dituntut untuk melakukan akselerasi penguasaan teknologi di bidang kedokteran.

Hal itu menjadi persoalan jika tidak dimulai dari hulunya, yaitu pendidikan, maka akan sangat sulit.

“Oleh karena itu, UU Pendidikan Kedokteran yang baru ini harus dibahas jelas strateginya seperti apa, akselerasi untuk alih teknologi,” ungkapnya.

Sementara itu, terkait inovasi pendidikan di dunia kedokteran, haruslah dikuatkan. Sehingga, bakal mempengaruhi standar dan daya saing dokter bisa sama.

Pendidikan kedokteran itu mencetak dokter yang standar internasional, memiliki daya saing bagus.

“Kemudian setelah diproduksi terdistribusi dengan baik untuk melayani masyarakat di Indonesia. Dan diakses oleh siapapun untuk bisa sekolah,” ujarnya.

Sumber : tribunnews.com

Tinggalkan Balasan