Posted on / by Willy Aditya / in Catatan

Tanda Tiga Lima

Sebentar 12 April kembalidatang, penanda dalam hidup bahwa usiaku, kini tiga lima tahun. Baris di manabegitu banyak tanda berserakan yang belum sempat disketsa menjadi diagram ataulukisan. Pada tanda-tandalah kita membaca, yang sudah serta yang akan terjadidalam hidup.

Tanda pertama adalah Tanya.Inilah tanda yang berserakan dalam ruang pikir dan hati. Bahwa merencana,memulai, melaku, serta menikmat selalu berangkat pada tanya untuk dicariataupun dijawab. Kadang tidak ada jawaban mesti hidup terus berjalan. Tanyalahalas dari pengetahuan, dan pengetahuan adalah peta untuk mengarungi hidup.

“Apa yang kau cari?”

Seperti kereta yang berhentidi stasiun sebagai penanda datang dan pergi. Semua kehidupan punya tujuan danharapan. Tujuan untuk sampai dan harapan untuk meraih. Tandalah yangmenyatakan, kita sampai atau tidak pada tujuan. Ada yang menanda tujuannyadengan posisi dan jabatan sebagai puncak perjalanan. Ada yang menandapencapaiannya dengan harta dan benda sebagai keberhasilan. Ada pula yangmengabdikan hidupnya pada orang banyak, pengetahuan, keyakinan, serta cinta.

Semua yang solid berasal dari kehampaan, semua yangtinggi berangkat dari permulaan, inilah hal ikhwal penciptaan. Bahwa pangkat,harta, atau gelar hanyalah penanda dari kehidupan yang tak rata. Apapun itu,fungsi, manfaat, serta imanlah yang menjadi akar untuk memuliakan manusia dalamragam ekspresi dan eksistensi.

Siapapun engkau, dimana apapun engkau, atau apapunengkau: tak ada yang perlu dilebih-lebihkan karena hidup adalah kehendak danpilihan sendiri-sendiri.

Kalau kau jadi bandit,jadilah bandit besar karena itulah tanda bahwa kebenaran masih diperlukan.Kalau kau jadi ustad, jadilah ustad yang baik karena itulah tanda bahwakemungkaran harus dilawan. Apapun tanda yang diberi atau terberi dengan sadaratau tidak, keadaan menuntut totalitas untuk sebuah kemuliaan.

Tanda kedua adalah Koma, iniadalah episode-episode yang tak terduga, penuh tepuk tangan atau air mata.Terkadang seperti bawang, dari kulit satu ke kulit lainnya. Dari satu pesta kepesta lainnya. Dari satu cerita ke cerita lainnya. Dari satu perang ke peranglainnya. Tak jarang kita mengulang halaman yang sama atau terkurung dalamritual rutinitas agenda harian, mingguan, bulanan yang memuakkan ataumembuntukan.

“Bulatkan hatimu danberdiri tegap dalam kenyataan!”

Koma, penanda hidup yang takpernah bulat apalagi sempurna. Manusia (makro) dan diri (mikro) tak ubahnyabumi dan wajahnya. Manusia memiliki kehendak dan pikiran bebas untuk menyusunrencana apa saja atas kehidupan.

Bahwa perjalanan ini dipanduoleh kepala, idealisme dan harapan-harapan yang bulat. Tetapi berjalan haruslahdengan kaki, realisme, dan kenyataan. Kita bisa memilih buku apa saja untukdibaca tetapi tak bisa membaca semua dalam waktu yang sama. Tak perlumempertentangkan antara kepala dan kaki atau idealisme dan realisme.

Bulat selalu saja ada dalamkepala dan suara namun komalah atau (disable society) yang menjadirealitas. Epik klasik menceritakan bukan hanya kebencian atau kebaikan sebagaialasan manusia berkawan atau bermusuhan. Tetapi gravitasi alam yang menentukansikap dan arti keradaan. Alasan apa kita harus berbeda bahkan saling berperangpadahal harapan dan idealisme yang kita perjuangkan sama. Bahkan tak jarang di antarakita dilahirkan dari rahim atau makan dari piring yang sama.

Masih banyak tanda yang belumterurai, ada tanda tangan, ada tanda zaman, ada tanda-tanda kemenangan ataupunkekalahan. Sebagai tanda tiga lima: stasiun terdekat sudah tiba!

Kebonnanas 12 April 2013

Tinggalkan Balasan