Posted on / by Willy Aditya / in Catatan

Awal Juni 2009

Angin masih saja berputar-putar, kadang menerpa muka, telinga dan membuat keringat di badan jadi kering. Acap kali orang bilang, ah hanya angin surga, hanya manis di mulut tapi tak ada nyatanya.

”Kau punya niat baik, aku punya niat baik, kenapa niat baik sama niat baik berkelahi!”

Begitu kalimat dalam sajak W.S. Rendra, karena dalam hidup tak hanya cukup niat baik. Tak hanya niat, kadang kerja baik dengan kerja baik juga tak saling bertemu, lalu apa yang saling bertemu dan bersama dalam hidup.

Bisa saja hanya ruang yang membuat orang saling dekat, bisa saja hanya waktu yang mempertemukan orang. Pragmatisme membangun pilar bahwa kepentinganlah yang dapat mempersatukan orang walau itu hanya sesaat dan bahkan sesat. Salahkah Bung Karno dengan romantismenya mempersatukan beberapa pilar besar atas nama Republik?

Sekali lagi mungkin hanya tafsir sejarah yang bisa membuat segala yang bergerak menjadi teratur dan bisa dibaca. Bahkan pikiran dan jalan diri sendiripun tak bisa dibaca, karena itulah sebagian besar orang hidup dalam situasi stres dan sakit jiwa.

Post Strukturalisme menempatkan banyak kontradiksi yang sifatnya serabutan, tak memiliki arus besar sebagai suatu fokus. Ya, ada banyak sengkarut, ada banyak lapisan dalam setiap kontradiksi. Lalu dimana kontradiksi dasar dan pokok berdiri? Apakah semua grand narasi tersebut hanyut bersama waktu ke cakrawala? Bisa jadi.

Lihat saja, ketika orang menggaris pilih atas suatu posisi, bisa dengan cepat dinegasikan karena pilihan tersebut dihimpit oleh pilihan lainnya. Lalu semua orang sibuk menggali kuburan sendiri dalam hati dan pikir yang sempit.

Inilah alam, hidup dan perjalan waktu yang kadang tidak pernah jelas dan tuntas. Pengabdian hanya tinggal sebagai niat, karena niat baik selalu disanksikan, karena pekerjaan baik sering kali dipandang remeh dan tak bertempat. Karena mencerca keadaan hanya sebuah tindakan yang sia-sia. Karena mencaci diri sendiri adalah penghinaan yang besar pada sejarah.

Atas segala pengalaman dan perjalanan ke depan, kuaklamasikan hidupku sebagai tindak yang bermanfaat pada sekecil apapun ruang dan waktu yang terlewatkan. Tak perlu diari atau museum sejarah untuknya. Sampai sebelum kuasa ada dalam ragaku ini.

 

2 Juni 2009

Tinggalkan Balasan