Bedah Novel ‘Mereka yang Ditelan Malam’, Willy Aditya Ingatkan Sejarah
Ketua Komisi XIII DPR Willy Aditya mengajak generasi muda merawat ingatan sejarah perjuangan melalui literasi dan karya sastra. Menurutnya, gerakan mahasiswa di Yogyakarta pada masa lalu memiliki keterkaitan erat dengan perjuangan rakyat dalam menghadapi ketidakadilan dan mendorong perubahan.
Pesan tersebut disampaikan Willy saat menjadi pengantar diskusi dalam kegiatan bedah novel “Mereka yang Ditelan Malam” di Ruang Literasi Kaliurang, Yogyakarta, Selasa (3/11/2026) malam.
Willy menilai, gerakan mahasiswa tidak dapat dipisahkan dari dinamika perjuangan masyarakat. Semangat pergerakan yang tumbuh di lingkungan kampus merupakan bagian dari gerakan rakyat yang lebih luas dalam memperjuangkan keadilan.
Menurut Willy, kegiatan bedah novel “Mereka yang Ditelan Malam” bukan sekadar ruang bernostalgia atau mengenang perjalanan sejarah. Karya sastra juga dapat menjadi medium untuk merawat ingatan kolektif, memahami pengalaman generasi sebelumnya, serta mengambil pelajaran bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia menilai novel tersebut memiliki kekuatan dalam menggambarkan perjalanan gerakan mahasiswa, termasuk sisi kemanusiaan dan romansa yang berkembang di tengah dinamika perjuangan.
Melalui cerita tersebut, pembaca diajak memahami bahwa sejarah pergerakan tidak hanya berisi peristiwa politik, tetapi juga pengalaman personal, persahabatan, dan pengorbanan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Willy mengingatkan pentingnya menjaga ingatan sejarah agar generasi sekarang tidak tumbuh menjadi generasi yang melupakan perjalanan bangsanya. Pemahaman terhadap masa lalu dinilai menjadi salah satu modal penting untuk membangun masa depan yang lebih menghargai nilai-nilai kemanusiaan.
Kegiatan yang mengangkat tema pembangunan literasi hak asasi manusia (HAM) melalui perpaduan sastra, sejarah, dan kebijakan hukum tersebut menghadirkan sejumlah narasumber.
Mereka, antara lain, Ketua Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) Kota Yogyakarta 1996 Yul Amrozi, penulis Mutia Sukma, dan pengarang novel “Mereka yang Ditelan Malam” Ilham Oktafian. Diskusi dipandu oleh Titok Hariyanto.
Dalam forum tersebut, Yul Amrozi menyoroti pentingnya pembaruan Undang-Undang Hak Asasi Manusia (UU HAM). Menurutnya, negara perlu mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa masa lalu sekaligus memperkuat perlindungan HAM untuk menjawab tantangan yang terus berkembang.
Yul menilai regulasi HAM tidak boleh hanya menjadi dokumen normatif. Perangkat hukum tersebut harus mampu mengikuti perubahan zaman, termasuk perkembangan teknologi, hubungan negara dengan warga, serta munculnya aktor-aktor nonnegara yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat.
“RUU HAM harus mampu membaca zaman. Tantangan HAM hari ini tentu berbeda dengan 20 atau 30 tahun lalu. Karena itu, perangkat hukumnya juga harus berkembang agar negara benar-benar hadir memberikan perlindungan kepada warga,” ujar Yul.
Ia menambahkan, pengalaman sejarah harus menjadi pijakan dalam membangun sistem perlindungan HAM yang lebih kuat.
Karena itu, pembaruan UU HAM perlu membuka ruang partisipasi bagi masyarakat sipil, akademisi, korban, aktivis, generasi muda, dan kelompok rentan. Dengan demikian, regulasi yang dihasilkan diharapkan benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, pengarang novel “Mereka yang Ditelan Malam”, Ilham Oktafian, mengatakan kisah aktivisme di Yogyakarta yang diangkat dalam novelnya dapat menjadi refleksi penting bagi pembaruan regulasi HAM.
Menurut Ilham, pengalaman dan perjalanan gerakan mahasiswa serta aktivis pada masa lalu memperlihatkan pentingnya memperkuat perlindungan hak asasi manusia.
“Apa yang menjadi cerita besar dalam forum ini, harus menjadi refleksi bagi kita, bahwa cerita-cerita aktivis di Yogyakarta itu menjadi dasar perlunya perubahan UU HAM,” kata Ilham.
Ilham berharap pembahasan Rancangan Undang-Undang Hak Asasi Manusia (RUU HAM) dapat segera dilakukan DPR bersama pemerintah. Ia menilai revisi UU HAM merupakan kebutuhan esensial agar regulasi yang berlaku mampu menjawab perkembangan zaman.
Dalam novelnya, Ilham juga mengangkat sejarah gerakan Samin yang pernah merepotkan pemerintahan kolonial dan menginspirasi gerakan pembangkangan petani di sejumlah daerah.
Ia menjelaskan, gerakan tersebut mengalami keterputusan pada masa Orde Baru sebelum kembali muncul setelah Reformasi.
Melalui diskusi tersebut, sejarah gerakan mahasiswa, pengalaman aktivisme, dan karya sastra diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda. Ingatan terhadap berbagai peristiwa masa lalu juga dinilai penting untuk memperkuat kesadaran masyarakat mengenai perlindungan HAM dan kehidupan demokrasi.
sumber: beritasatu
