Posted on / by Willy Aditya / in Berita

Seabad Ruang Pendidik INS Kayutanam

Seratus tahun lalu, tepatnya 31 Oktober 1926, Mohammad Sjafei mendirikan Indonesisch Nederlandsche School (INS) di Kayutanam, Sumatera Barat. Di tengah pendidikan kolonial yang cenderung mencetak manusia untuk memenuhi kebutuhan kekuasaan, Sjafei menawarkan gagasan berbeda: sekolah harus membantu manusia mengenali potensi dirinya dan mampu menghadapi kehidupan.

Filosofi yang menjadi napas pendidikan INS terangkum dalam ungkapan Minangkabau, alam takambang jadi guru. Alam dan kehidupan bukan sekadar objek yang dipelajari, melainkan sumber pengetahuan.

Pendidikan tidak boleh berhenti pada hafalan dan nilai akademik, tetapi harus membentuk manusia yang mampu berpikir, bekerja, berkarya, dan bertanggung jawab.

Hampir satu abad kemudian, gagasan itu justru terasa semakin relevan. Ketika dunia pendidikan sibuk membicarakan kreativitas, keterampilan hidup, dan kemampuan berpikir kritis, INS telah lama menjadikannya bagian dari praktik pendidikan.

Saya masih ingat pengalaman ketika menjadi siswa INS. Saya yang terbiasa memperoleh nilai akademik baik ternyata hampir tidak naik kelas karena tidak mampu melukis.

Sebaliknya, seorang teman yang kemampuan matematikanya biasa saja memiliki bakat musik luar biasa. Dari pengalaman sederhana itu saya memahami bahwa kecerdasan manusia tidak memiliki satu ukuran.

Di INS, kerajinan tangan, pertanian, musik, lukisan, drama, dan sastra bukan pelajaran pelengkap. Semuanya menjadi ruang untuk menemukan kemampuan diri.

Nilai matematika sepuluh tidak membuat seseorang lebih tinggi daripada teman yang mahir memainkan biola. Pendidikan seharusnya menghargai perbedaan, bukan menyeragamkan manusia.

INS juga mengajarkan bahwa pengetahuan tidak hanya milik guru atau orang yang memiliki gelar. Setiap orang dapat menjadi sumber pembelajaran. Ruang kelas bahkan disebut Ruang Dewasa, sebuah gagasan yang menempatkan pendidikan sebagai perjumpaan antarmanusia. Tradisi diskusi, membaca sastra, berdebat, dan berkesenian membangun keberanian untuk mempertanyakan sesuatu tanpa kehilangan rasa hormat.

Bagi saya, inilah inti pendidikan yang memerdekakan: tidak mendikte apa yang harus dipikirkan, tetapi menumbuhkan keberanian untuk berpikir.

Namun, peringatan seabad INS tidak semestinya berhenti menjadi perayaan nostalgia. Ada persoalan keberlanjutan yang harus dihadapi, termasuk konflik di antara pihak-pihak yang mengklaim sebagai pewaris. Ironis apabila lembaga yang didirikan untuk memerdekakan manusia justru tersandera oleh kepentingan menguasai peninggalannya.

Warisan terbesar Engku Sjafei bukanlah tanah, bangunan, atau jabatan dalam struktur pengelolaan. Warisan terbesarnya adalah gagasan tentang manusia dan pendidikan.

Semangat wakaf yang melandasi pendirian INS seharusnya mengingatkan bahwa lembaga ini dibangun untuk kepentingan generasi, bukan kepentingan kelompok tertentu.

INS tentu harus beradaptasi dengan perubahan zaman. Tata kelola yang baik, akuntabilitas, dan keberlanjutan pembiayaan merupakan kebutuhan penting. Namun, modernisasi tidak boleh menghilangkan identitas. Pendidikan tidak semestinya direduksi menjadi angka kelulusan, jumlah murid, kelengkapan administrasi, atau ukuran keuntungan semata.

Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah kita benar-benar ingin mewarisi cita-cita Engku Sjafei, atau hanya ingin menguasai peninggalannya?

Seratus tahun INS harus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali gerakan pemikiran dan kerja pendidikan. Kita tidak perlu menyalin seluruh model INS ke setiap sekolah. Yang perlu diwariskan adalah keberanian menghargai potensi manusia, menghubungkan ilmu dengan kehidupan, serta membangun tradisi berpikir kritis dan bertanggung jawab.

Saya mungkin tidak pernah menjadi pelukis atau pemain biola. Namun, INS mengajarkan sesuatu yang jauh lebih berharga: manusia tidak ditentukan oleh satu ukuran kecerdasan. Setiap orang memiliki jalan dan kemampuan yang patut dihargai.

Kepada keluarga besar INS, mari berhenti sejenak memperdebatkan siapa yang paling berhak mewarisi Engku Sjafei. Lebih penting menghitung berapa banyak anak Indonesia yang masih dapat kita merdekakan melalui pendidikan.

Jangan hanya menjadi ahli waris sejarah. Jadilah penerus cita-citanya. Sebab, INS bukan sekadar sekolah, melainkan ikhtiar memerdekakan manusia. Selamat satu abad, INS Kayutanam. Alam takambang jadi guru.

Sumber: TIMES INDONESIA

Tinggalkan Balasan