Posted on / by Willy Aditya / in Catatan

Dara Wira Anastasia

Langit Jakarta mengharu-biru, digores lembayung kuning, orang-orang masih saja berotasi menyusun rumah dan surau. Aku berkemas untuk mengajak emakmu yang sedang berat, seberat perdebatan rumah dan surau bagi mereka yang sedang berotasi untuk menuntaskan identitas.

It’s the last battle!’ begitu jelas dan menancap di kepalaku. Itu bagi mereka yang di ambang senja. Tak hanya ungkapan tersebut yang berpendar di kepalaku, hal yang membuat aku terenyuh adalah “nek metu ne gede, opo mungkin ora ono pambrih ne!” ya, itu pula hukum alam yang selalu tertuang dalam sejarah!

Aku tidak sedang silau dengan matahari, apalagi gagap dengan lingkaran, bagiku, bapakmu ini, mulai berikhtiar untuk ikhlas, seperti seorang tua katakana, “kau boleh kerja secapek apapun, tapi jangan pernah pusing alang kepalang yang akan menyakiti badan, hati, dan jiwamu!” aku tersentak, inilah makna kongkrit dari quantum ikhlas tersebut.

Emakmu, adalah perempuan yang tangguh. Ia membawamu melintasi panjangnya jalur busway, ia turun naik tangga yang aku saja tak pernah alami rutinitas seperti itu. Aku bahagia dalam air mata yang jatuh ke dalam. Emakmulah yang membukakan pintu rumah setiap kali aku datang sudah larut malam. Bahkan hampir adzan subuh. Emakmu selalu bilang, ia dan kamu tak bisa tidur kalau aku tak memutarkan kakinya dan tak membacakan asma Allah padamu.

Anakku, tanggal 30 Januari 2011, perhelatan ini baru dimulai, suatu prosesi  khas masyarakat yang miskin identitas, atau setidaknya peradaban yang tidak puguh dalam jati diri. Semua serba megah, semuanya serba berkelindan cahaya, dan penuh balon-balon plastik.

Anakku, perhelatan ini selesai tanggal 1 Februari 2011, dimana kata menggema seperti Martin Luther yang dikutip dalam pidato perayaannya. “We have a dream!” ya, kamulah mimpi dan harapan itu anakku. Bukan mimpi dan harapan bagi kulit hitam yang ingin bergandeng tangan dengan kulit putih dalam membangun demokrasi Amerika.

2 Februari 2011, pagi hari, emakmu, bercerita padaku, kau sudah member salam untuk datang. Aku bersiap untuk meminta bala bantuan pada nenekmu di seberang pulau, untuk menemani proses kelahiranmu. “kalau tidak nanti malam, mungkin besok, si adek sudah akan bersama kita menghirup udara Jakarta, pa!” itulah keterangan emakmu.

Anakku, tanggal 3 Februari 2011, adalah waktu bagi masyarakat Tionghoa merayakan Imlek. Ini adalah saat Dewi Kwan Im turun dalam semaraknya Gong Xi Fa Chai. Ini adalah tahun pergantian dari tahun Macan Emas ke tahun Kelinci Emas.

Sedari pagi kamu terus menggetuk pintu rahim emakmu, seperti sedia kala, emakmu pergi ke pasar dan tak lupa sarapan soto ayam kesukaannya. Setelah itupun masih teringat untuk membeli perlengkapan bulanan rumah, emakmu terus mengerang kesakitan.

Pukul 13.50, emakmu meminta aku untuk menghitung frekuensi salammu, kamu sudah semakin sering bertasbih, kali ini setiap 5 menit. Aku meminta emakmu untuk mandi membersihkan diri, tetapi dia sudah mempunyai rasa yang aku bisa lihat dan berempati. Emakmulah yang mengerti persis bagaimana tanda-tanda itu akan tuntas.

Pukul 16.00, kami tiba d RSIA Hermina, tempat yang taka sing bagimu, dimana check up selalu di tempat ini. Kami pergi di tengah tangis abangmu yang memberikan laku cemburunya. Kami sadar, bahwa ini adalah siklus manusia dalam keluarga. Abangmu punya cara tersendiri menyambutmu. Dia pula yang sering menghiburmu dan emakmu bila aku pulang larut malam.

Pukul 17.50, kamu hadir bersama serenade yang mengalun begitu merdu dan syahdunya. Kamulah yang menjadi pelantun tembang itu anakku. Kamulah yang melengkapi keluarga ini menjadi paripurna. Aku sibuk berkabar pada sanak-famili, memberitakan kegembiraan ini.

Malamnya aku membersihkan ari-arimu, dengan tangan sendiri. ketika kelahiran abangmu, aku diusir sopan oleh bu Dokter, berbeda dengan kehadiranmu, aku menyaksikan detik, proses, dan eksekusinya anakku.

Anakku, aku ingin kau tumbuh menjadi bundo kanduang, seperti harapan yang kutulis dalam bejana itu. Aku beri namamu seperti tradisi Minang memanggil para perempuannya, Dara Wita, Perempuan yang penuh kekayaan. Kekayaan budi pekerti, kekayaan ilmu pengetahuan, kekayaan agama, dan kekayaan harta. Anastasia, seperti Restorasi Indonesia yang aku tekuni, itulah bahasa Yunani, yang bermakna kebangkitan kembali dari sebuah harapan.

Inilah kadoku untuk kau baca ulang anakku, Dara Wita Anastasia!

Tinggalkan Balasan