Posted on / by Willy Aditya / in Opini

Elan Republikanisme Pemuda dan Pembangunan

Tepatnya Tanggal 1 Januari 1808 Kapal Virginia merapat di Anyer. Gubernur Jenderal Hindia Timur Herman Willem Daendels untuk pertama kali menginjakkan kaki di tanah Jawa. Sejak hari itu, Jawa tidaklah sama. Daendels telah membangun— tepatnya melebarkan hampir 7 meter—jalan sepanjang 100 Kilometer dari Anyer sampai Panarukan. Melalui jalan ini ekonomi, politik dan kebudayaan tumbuh dengan menyimpan sisi gelapnya masing-masing. Juga di balik jalan ini telah jatuh korban ratusan ribu orang meninggal akibat kerja paksa. Proyek Jalan Pos tersebut adalah proyek infrastruktur terbesar di dunia saat itu (1808). Dan mungkin hanya proyek jalan Berlin – Paris saja yang menandinginya saat itu.

Di jaman kolonial, jalan ini menjadi penopang utama pengumpulan hasil bumi untuk selanjutnya dikirim ke Eropa. Lantas, setelah 200 tahun apakah ada yang berubah? Sekarang jalan ini menjadi penghubung kota-kota penting di Jawa. Merak-Jakarta-Bandung-Semarang dan Surabaya merupakan ”pusat” dari dinamika ekonomi dan politik di Jawa. Di titik-titik inilah ”saling-hubungan” terjadi baik antara desa dengan kota serta antara si miskin dengan si kaya. Dari jalan inilah Jawa ”bergeliat”, ada yang terjepit dan ada yang semakin leluasa.

Apa yang berubah dari 200 tahun semenjak jalan ini dibuat adalah bahwa Indonesia sudah merdeka, bahwa Belanda dan Jepang telah hengkang sebagai kolonial, namun apakah peradaban bangsa dan masyarakat berubah dan apa yang dapat dibanggakan setelah 200 tahun?

Kenyataan yang hadir saat ini memang belum memberikan kondisi yang mampu membuat bangsa dan masyarakat lebih optimis dalam memandang masa depannya. Dalam konteks ini, perubahan menjadi jalan yang paling mungkin untuk mencapai masa depan baru yang lebih baik dan lebih bermakna. Perubahan yang dibutuhkan, tidak sekedar perubahan kekuasaan atau sekedar sirkulasi kekuasaan, melainkan perubahan yang merestorasi watak negara kembali kepada jati dirinya, yakni Pancasila.

Perubahan jenis ini membutuhkan pelaku sejarah, pelaku yang menggabungkan kesejarahan dan harapan masa depan, yang diikuti pengembangan keseimbangan baru dalam tata dunia baru. Pelaku sejarah yang akan menjadikan peradapan sebagai babak baru menata bangsa meraih masa depan baru.

Pengorganisasian Pemuda

Gerakan kemerdekaan negara bangsa pasca Perang Dunia II ditandai gelegak angkatan muda yang memberikan inspirasi terhadap gelombang besar tata dunia baru. Ben Anderson menegaskan peran tersebut dalam sejarah Indonesia merdeka sebagai Revolusi Pemuda. Pekik Merdeka yang disuarakan Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka dan Natsir adalah “Merdeka atau Mati!”. Gelora dan semangat revolusi pemuda kemudian menajam menjadi bambu runcing. Kemudaan merekalah yang mewarnai Indonesia saat itu.

Senyatanya, tertulis dalam sejarah bahwa pemuda Indonesia terlibat dalam tugas-tugas aktual untuk mendobrak kebuntuan tatanan sosial politik. Bisa dipastikan patahan sejarah sosial politik Indonesia selalu dibawah pengaruh gerakan pemuda. Tugas sejarah pemuda tersebut kemudian tereliminasi ketika masuk dalam ranah pembangunan sosial ekonomi. Mayoritas pemuda Indonesia yang mengusung perubahan sosial politik tidak terserap dalam agenda lanjutan yakni pembangunan sosial ekonomi. Partisipasi pemuda digantikan oleh pelaku-pelaku lainnya yang terkadang tidak melanjutkan semangat dan nilai yang diusung pemuda.

Patahan tersebut lahir dari reproduksi sistem pendidikan dan kebijakan pembangunan ekonomi yang tidak sebangun. Sistem pendidikan yang diusung adalah wajib belajar untuk menyerap sebesar mungkin pemuda namun kebijakan pembangunan ekonomi padat modal dan terkonsentrasi di beberapa daerah saja. Realitas ini kemudian melahirkan mayoritas pemuda Indonesia tidak memiliki kecakapan yang khusus untuk mengisi industri padat modal ataupun profesional lainnya. Realitas ini pulalah yang terjadi di sepanjang jalan raya Deandles dimana mayoritas pemuda justru menjadi pengangguran, kuli angkut, buruh migran, atau yang lebih tragis lagi menjadi korban human traficking.

Pelaku sejarah yang sama (pemuda) namun melahirkan suatu peradaban yang berbeda justru lahir di beberapa negara tetangga salah satunya adalah Vietnam. Vietnam adalah negara yang baru saja terlepas dari perang pada tahun 1975. Pasca perang, Vietnam melakukan restorasi sejarah yang dibangun para pendiri negera mereka dengan membangun ulang “The Ho Chi Minh Trail” Jalur yang dahulunya digunakan sebagai jalur gerilya perang untuk menghubungkan Vietnam Utara dan Selatan dimana dukungan logistik Vietcong diselundupkan. Jalur setapak yang panjangnya 16.000 kilometer dan dikenal juga sebagai “The Blood Road.”

Pelajaran berharga dari pembangunan sosial ekonomi di Vietnam adalah negeri itu menempatkan pemuda sebagai tulang punggung modernisasi. Pemuda Vietnam melangkah dalam sejarah penting untuk mengejar ketertinggalan mereka beberapa abad dari negara-negara lain di dunia. Peran penting pemuda yang mengorganisasikan diri dalam sukarewan dan kelompok kepemudaan membangun jalur setapak Ho Chi Minh menjadi jalan raya yang menyangga denyut nadi perekonomian antara desa dan kota. Beragam resolusi kepemudaan dikampanyekan seperti “Youth is the vanguard of studying society”, “Youth is good at business doing, positively in eliminating hunger and reduce poverty”, atau “voluntarily for the community’s live” untuk menyongsong Vietnam yang berhari depan. Bahkan dalam beberapa jambore internasional kepemudaan yang diselenggarakan di Vietnam, pemuda-pemuda yang datang dari berbagai penjuru dunia diajak untuk berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan jalan raya Ho Chi Minh sebagai kebanggaan mereka.

Tentu partisipasi pemuda dalam pembangunan sosial ekonomi Vietnam bukan janji-janji rame ing pamrih, sepi ing gawe seperti dalam kampanye politik di Indonesia. Kontribusi besar pemuda dalam pembangunan sosial ekonomi tersebut dibayar oleh Vietnam dengan pemberian program beasiswa berskala besar pada pemuda, bantuan dana dalam mendirikan usaha dan membuka lapangan kerja yang luas di sektor industri basis (base industry) bagi pemuda.

Tugas Sejarah

Indonesia merdeka masih tergantung pada warisan-warisan kolonial seperti infrastuktur jalan raya pos dan rel kereta api. 200 tahun paska pendaratan Daendles adalah sebuah frasa bukanlah sekedar angka tanpa makna, namun mereka adalah simbol-simbol dari langkah-langkah sejarah yang pernah dijejakkan oleh para pelaku sejarah.

Kondisi berbangsa dan bernegara bukannya mengalami kemajuan namun sebaliknya, mengalami kemerosotan. Samudera teduh pengangguran, antrian kuli untuk ke luar negeri, serta miskinnya prestasi dan karya baru yang bersimaharajalela, kekerasan dan konflik, adalah gambaran yang tiap hari kita saksikan.

Di era kolonial Belanda, tenaga kaum muda terdidik dimobilisir untuk menjadi tenaga klerikal bagi kepentingan kolonial. Adapun pada era fasis Jepang, tenaga kaum muda dimobilisir untuk menjadi tentara PETA. Pada era kemerdekaan, tenaga kaum muda terdidik dimobilisir untuk menopang kebijakan industri substitusi impor (ISI) yang gagal. Bahkan saat reformasi, struktur piramida pengangguran didominasi oleh kaum muda.

Sebagai kehendak sejarah, pemuda selalu hadir dalam situasi kebuntuan dalam satu lompatan sejarah maju. Sebab langkah sejarah adalah langkah yang progresif, sama sekali bukan langkah konvensional apalagi mundur. Pemuda adalah langkah maju yang bersifat menjebol dan membangun. Bung Karno, secara visioner mengkungkapkan, ”beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia.”

Pesan Bung Karno di atas mengandung makna bahwa kekuatan pemuda mutlak diorganisasikan ke dalam organisasi berwatak nasionalis yang sesuai dengan karakter bangsa untuk menumbuhkembangkan solidaritas nasional dan budaya gotong royong. Organisasi yang juga berwatak demokratis untuk menggelorakan partisipasi dan emansipasi pemuda Indonesia. Organisasi yang bergerak dari titik-titik di penjuru Indonesia untuk membangun jalan-jalan, rel-rel, dan waduk-waduk sebagai maha karya Indonesia merdeka.

Ben Anderson dalam bukunya ”Revolusi Pemoeda” (1988: 15) mengungkapkan bahwa “Akhirnya saya percaya bahwa watak khas dan arah dari revolusi Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh ’kesadaran pemuda’ ini”. Oleh karena itu, Indonesia merdeka adalah Indonesia yang mampu memberikan ruang seluas-luasnya bagi partisipasi aktif kaum muda dalam pembangunan sosial-ekonomi. Indonesia yang merdeka adalah Indonesia yang mampu menyatukan ’gerombolan pemuda’ menjadi ’barisan pemuda’ yang melebur ke dalam suatu elan republikanisme baru yang memiliki kekuatan menjebol dan membangun.

11 Oktober 2012

Tinggalkan Balasan