Posted on / by Willy Aditya / in Catatan

Harga Diri

Malam mulai mendekap anak-anakku, setelah si bungsu tidur bersama mimik mamanya. Aku mengajak si cantik Dara untuk ke kamarnya namun dia bersikeras meminta bermain gadget terlebih dahulu karena itu adalah haknya di setiap akhir pekan. Di banyak ruang, ternyata selalu tersisa laku untuk bernegosiasi, tidak terkecuali dengan anak sendiri.
Aku mencari cara agar dia mau secara sukarela memenuhi “panggilan alam” untuk mengistirahatkan dirinya. Aku mendengarkan keinginannya sembari membujuknya. Hasil negosiasi itu adalah, kami bersepaham untuk berbicara tentang sesuatu yang sedang digandrunginya: keinginan untuk menjadi seorang youtuber. Aku dan Dara bersepakat untuk mengupload video puisi keduanya nanti, dengan komitmen, aku yang akan mencarikan puisi untuk dia baca di acara sekolahnya nanti. Setelah “deal” itu terjadi, dia pun mau untuk memasuki kamarnya.
Lalu aku kembali ke kamar dan ngobrol dengan istriku. Aku menanyakan apakah si sulung Alif sudah tidur. Istriku menjawab, “Belum, besok dia ujian.”
Spontan, aku beranjak ke kamar Alif. Kulihat, seperti biasa, sekujur tubuhnya diselimuti peluh yang bercucuran membasahi bajunya. “Lif, besok ujian Nak?” Tanyaku.
“Iya Pa, PKN dan English,” jawabnya spontan.
“PKN apaan sih Lif?”
“Nggak tahu Alif, Pa.”
Aku kaget mendengar jawabannya. Dia yang belajar dan akan ujian, tidak mengerti apa singkatan PKN.
“Lif, PKN itu Pendidikan Kewarganegaraan,” terangku kemudian.
Sejurus kemudian aku melanjutkan,
“Alif masih ingat WHY PERANCIS, yang doyan Alif baca ulang? Itu hal ihwal gagasan tentang kewarganegaraan. Dalam bahasa Perancis namanya ‘citoyen’, atau bahasa Inggrisnya ‘citizen’. Kewarganegaraan lahir sebagai bentuk baru dalam relasi masyarakat setelah lahirnya negara yang berbentuk republik.
Alif masih ingat kenapa revolusi Perancis lahir? Bagaimana pemberontakkan pada Raja Louis XVI yang mengubah relasi manusia, dari hamba atau abdi raja menjadi warga negara Perancis?
Alif ingat nggak, semboyan revolusi Perancis? ‘Liberte, egalite dan fraternite’. Kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan, adalah semangat dari kewarganegaraan mereka.
Di Indonesia Lif, gagasan itu lahir dua hari sebelum tanggal kelahiran Alif. Melalui Kongres Pemuda II di Jakarta, pemuda dan pemudi dari pelosok Nusantara bersumpah untuk berbangsa dan bertanah air satu serta menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Kewarganegaraan itu secara sederhana membahas tentang hak dan kewajiban kita terhadap negara, Lif. Sebagai warga negara, kita berhak atas kesetaraan di muka hukum, kita berhak mendapatkan pendidikan, mendapat kesehatan yang layak, dan lain-lain.”
Alif yang dari tadi terpaku, tiba-tiba bertanya datar, “Kalo kewajibannya, Pa?”
“Adapun kewajiban kita, misalnya adalah membayar pajak dan membela negara Indonesia bila diserang oleh lawan.
Kalau dalam keluarga, hak Alif adalah mendapatkan kasih sayang dari Mama dan Papa. Hak Alif juga untuk bermain, sekolah, dan mendapat uang jajan, dan lain-lain. Nah, kalau soal kewajiban, contohnya Alif seperti menuruti perintah Mama sama Papa, menjaga adik-adik Alif, cuci piring setelah makan, terus jaga kebersihan dan kesehatan rumah. Gitu lif.”
“Emang besok Alif ujian bab berapa?”
“Bab III dan IV, Pa.”
Aku lalu membuka tas Alif dan mencari buku PKN. Setelah melihat daftar isi, lalu aku membaca isi Bab III tentang harga diri dan Bab IV tentang lambang negara.
Ketika membaca materi Bab III tentang harga diri, aku mulai tergelitik mengikuti alur pikir, analogi, dan metode yang disampaikan dalam buku pelajaran Alif ini. Harga diri dicontohkan dengan anak-anak yang memenangi lomba cerdas cermat. Keberhasilan itu, menurut isi buku, secara otomatis akan membuat mereka mendapat kehormatan dengan naiknya harga diri mereka.
Aku langsung terhenyak karena memikirkan satu hal: bagaimana hal-hal yang bersifat praktis ini harus dihafal oleh anak didik seperti Alif dan anak-anak seusia lainnya. Jangankan konsep harga diri yang rumit seperti tertulis di buku mata pelajarannya, sekadar judul mata pelajarannya saja Alif tidak ingat sama sekali.
Sambil garuk-garuk kepala aku kemudian mendekap Alif, anakku.
Nak, dulu mungkin Opung atau Nenekmu tidak pernah mencemaskan apa materi dan metode pembelajaran Papamu di sekolah. Mereka hanya akan mengevaluasi hasil akhir saat penerimaan rapor cawu atau semester.
Tapi zaman terus bergerak, dan generasi tumbuh dalam semangat kemajuan. Opung dan Nenekmu juga yang meletakkan dasar itu untuk Papamu bisa mencari pengetahuan sampai ke negeri seberang.
Lif, Bung Karno pernah meletakkan beberapa tahapan dalam soal yang kau pelajari ini. Hal tersebut berangkat dari pengalaman pribadi Bung Karno dalam upayanya memperjuangankan pembebasan Indonesia untuk merdeka. Bung Karno meletakkan sebuah konsepsi nation and character building. Ada tiga tahapan di dalamnya; pertama, adalah percaya diri; kedua, harga diri; dan ketiga, adalah jati diri.
Tiga hal ini adalah soal mendasar dalam hubungan antara masyarakat dengan negaranya, anakku. Di dalamnya, terkandung soal bagaimana persamaan dan perbedaan yang tumbuh dan akan saling berlawan.
Sebagai manusia kita tidak hanya percaya pada Tuhan sebagai Sang Pencipta, tetapi kita juga harus memiliki kepercayaan diri bahwa Tuhan menciptakan mahlukNya atas bahan material yang sama. Tuhan tidak pernah pilih kasih atas makhluk ciptaanNya. Jadi kepercayaan diri kita berbasiskan pada kemampuan yang lahir secara fisik dari Sang Pencipta yang rata-rata adalah sama: sama memiliki akal, sama memiliki tangan, kaki, mata, telinga, dan rasa yang sama.
Setelah itulah manusia berkembang untuk menghargai apa yang mereka miliki atas fungsi menjadi manusia yang baik dan berguna bagi dirinya, lingkungan terdekat, dan masyakaratnya. Harga diri itu tumbuh atas pencapaian-pencapaian manusia dalam kerja untuk membangun diri dan masyarakatnya. Harga diri bukan sesuatu hal yang terletak pada pangkat dan posisi, karena panutan kita seperti Nabi Muhammad pernah diludahi oleh seorang wanita Yahudi dan dia tidak marah apalagi dendam pada si wanita. Harga diri juga bukanlah sebentuk kesombongan atau keangkuhan yang menjadikan manusia terkotak-kotak atau terjebak dalam posisi yang tradisional seperti gender atau difabel.
Terakhir adalah jati diri, anakku. Inilah outcome yang menjadi mimpi dari seorang yang bernama Martin Luther King Jr, seperti terlihat dalam pidatonya yang terkenal “I have a dream”. Sebuah mimpi di mana manusia tidak membedakan penilaian atas manusia lainnya berdasarkan warna kulit atau atas jabatan atau kekayaan yang mereka miliki, tetapi berdasar karakter yang tumbuh dalam diri dan masyarakatnya. Karakter malas atau rajin, karakter penipu atau jujur, karakter produktif atau korup!!!
Alif, semoga ujianmu besok menyenangkan, karena yang menjadi kecemasan Papamu bukanlah hasil ujianmu akan seperti apa atau nilaimu berapa; melainkan apakah sekolah benar-benar akan menjadi momok bagimu dan teman-temanmu atau tidak. Hasil ujian tidak akan mempengaruhi karakter yang akan tumbuh dalam dirimu karena Papa ingat ketika papamu ini masih sekolah di asrama INS Kayutanam dulu.
Waktu itu, AA Navis, ketua yayasan di sekolah Papa, meminta semua siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembangunan beberapa sarana penyelenggaraan Pekan Kesenian Nasional yang akan diselenggarakan di Kayutanam. Kami semua protes, karena kami akan menghadapi ujian kelulusan SMU dan sebagian ujian kenaikan kelas.
“Kami ke sini untuk belajar, bukan ngangkat batu dan pasir, bukan menyabut rumput atau memotong kayu. Kami ingin belajar di kelas selayaknya anak sekolahan,” begitu kurang lebih gugatan kami meski hanya berkumandang di lereng bukit Tambun Tulang.
Namun setelah sekian lama Papa akhirnya menyadari bahwa sekolah tidak hanya formalitas tatap muka, ujian kenaikan kelas atau mantra berupa hafalan-hafalan rumus semata. Bila pola pembelajaran di sekolah seperti itu hanya akan menjadikan manusia menjadi objek yang seragam seperti robot. Proses pendidikan jadi menjemukan dan malas untuk menggali dan menemukan karakter dan talenta dalam setiap pribadi manusia untuk kehidupan yang lebih baik dan berkemajuan.
Seperti pesan Engku Navis, Lif, Papa ingin menutup tulisan ini dengan sebuah falsafah ‘alam terkembang jadi guru’. Belajarlah dari alam sembari kau bermain. Belajarlah selalu dari setiap babak-babak di alam kehidupanmu. Belajarlah dari setiap laku dan respon-respon yang diberikan alam terhadapmu. Dan jangan pernah takut untuk bermimpi dan mencari, meski di sekolah, kita dibedakan atas dasar angka dan huruf yang menjadi standar penilaian.
Bermimpilah setinggi yang kau mau. Mencarilah sedalam yang kau mampu, anakku!
Jangan hiraukan angka dan huruf itu sebab ia bukan segala-galanya dalam hidup ini, anakku!
Kebonnas, 6 Juni 2017

Tinggalkan Balasan