Posted on / by Willy Aditya / in Opini

Jusuf Kalla dan Identitas Ke-Indonesia-an

Kehadiran Jusuf Kalla sebagai kontestan dalam Pemilu Presiden 2009 adalah suatu kemajuan penting dalam sejarah peradaban demokrasi Indonesia. Kenapa penting? Tentu saja bukan karena slogan “lebih cepat, lebih baik” yang ngetop dan ngepop di semua kalangan pemilih Indonesia; bukan juga karena Jusuf Kalla adalah orang non-Jawa pertama yang maju sebagai calon presiden dalam pemilu langsung; tetapi karena sosok dan peluang strategi yang bisa dipakai oleh Jusuf Kalla dalam pemilihan presiden kali ini dengan merujuk pada salah satu sejarah kejayaan Nusantara.

Ada beberapa pilar dalam sejarah perjalanan Indonesia sebagai negara bangsa dimasa lalu yang sering dirujuk sebagai simbol perlawanan (resistensi) terhadap kolonialisme. Satu diantaranya adalah penaklukan besar yang dipimpin Pati Unus pada tahun 1521 untuk merebut Malaka dari tangan Portugis. Malaka adalah pelabuhan dagang paling besar dan paling ramai di sepanjang nusantara bahkan di Asia Tenggara. Pelabuhan ini direbut Portugis pada tahun 1511. Posisi Malaka secara geopolitis dan geostrategis waktu itu adalah sebagai jalur perdagangan rempah-rempah dunia. Tahun 1512 Portugis sudah meluaskan daerah kekuasaanya sampai ke Samudara Pasai. Kejatuhan Samudra Pasai ke tangan Portugis membuat jalur perdagangan rempah-rempah menjadi terancam karena akan dimonopoli Portugis yang mengganggu hubungan kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan para saudagar dari berbagai kerajaan Asia dan Eropa.

Kegelisahan ini dirasakan oleh kesultanan Demak. Mereka kemudian mengirimkan ekspedisi militer pertamanya ke Malaka pada tahun 1513 yang dikenal dengan sebutan ekspedisi Jihad I. Ekspedisi militer yang kecil dan tidak terencana ini akhirnya gagal dan kembali ke tanah Jawa. Kegagalan ekspedisi pertama tersebut telah memberikan pelajaran penting bagi kesultanan Demak untuk kembali merancang ekspedisi yang lebih massif dan lebih terorganisir. Persiapan pertama yang dilakukan adalah membangun kekuatan militer yang lebih besar dengan kapal perang yang lebih banyak. Raden Patah dan Pati Unus paham benar, pembuatan kapal paling tepat adalah tanah Sulawesi karena orang Makassar dan Bugis telah dikenal luas sebagai penakluk samudra.

Akhirnya tahun 1521 Ekspedisi Jihad II/Ekspedisi Malaka dilancarkan. Sebanyak 375 kapal dengan ukuran cukup besar dipersiapkan untuk mengangkut semua bala tentara menuju Malaka. Atas restu para Wali, berangkatlah pasukan gabungan dari kesultanan Demak, kesultanan Cirebon, dan kesultanan Banten dipimpin Pati Unus yang baru tiga tahun menjadi Sultan Demak setelah Raden Patah meninggal.

Sesampainya di Malaka armada besar ini disambut dengan letusan meriam para prajurit Portugis. Setelah terjadi pertempuran tiga hari tiga malam akhirnya ekspedisi ini kalah dan Pati Unus gugur bersama istri dan satu orang putranya. Kapal yang ditumpangi Pati Unus terkena peluru meriam ketika akan menurunkan perahu untuk merapat ke pantai. Ia gugur sebagai syahid karena kewajiban membela sesama Muslim yang tertindas penjajah Portugis yang bernafsu memonopoli perdagangan rempah-rempah. Sebagian pasukan Islam yang berhasil mendarat kemudian bertempur dahsyat hampir 3 hari 3 malam lamanya dengan menimbulkan korban yang sangat besar di pihak Portugis. Sampai sekarang Portugis tak suka mengisahkan kembali pertempuran dahsyat di tahun 1521 ini .

Setelah 488 tahun berlalu sejarah mencatat, ekspedisi ini masih menjadi salah satu perjuangan terbesar yang pernah dilakukan oleh rakyat di nusantara untuk menegakan kedaulatan. Ekspedisi ini dengan jelas menggambarkan kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam dengan visi maritim dan berorientasi pada penyatuan nusantara. Hal lain di balik peristiwa besar ini adalah menyatunya kerajaan-kerajaan yang ada di nusantara. Nilai penting dari sejarah ini adalah terhindarkannya monopoli atas jalur perdagangan dan semua hasil bumi para penduduk di sepanjang pulau nusantara oleh satu pihak saja, terutama oleh kekuatan asing.

Menelusuri kembali jejak sejarah ekspedisi ini akan kembali menguatkan semangat patriotisme bangsa yang semakin terkikis dewasa ini. Peristiwa ekspedisi Malaka telah memberikan pelajaran berharga tentang arti persatuan semua bangsa dan etnis, hubungan dengan dunia luar yang duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, kemandirian ekonomi dalam arti tidak membenarkan adanya monopoli oleh suatu bangsa, ke-Indonesia-an yang harusnya dibaca ulang dan ditanamkan. Sejarah bangsa yang sering terlupakan adalah betapa nusantara pernah jaya di atas ranah yang lautannya lebih luas dibanding daratannya.

Lalu di mana letak titik sambung Jusuf Kalla dengan Ekspedisi Malaka ini? Kehadiran Jusuf Kalla sebagai calon presiden pertama dari luar Jawa tentu mengembalikan memori sejarah tentang ke-Indonesia-an kita. Ke-Indonesia-an adalah kebhinekaan yang dipersatuan oleh perbedaan bahasa, budaya, dan warna kulit. Ke-Indonesia-an selalu bangkit dan bersatu untuk mematahkan dominasi dan intervensi kekuataan luar yang berusaha mengrogoti sumber daya, kawasan dan semua potensi yang terbentang dari ujung Merauke sampai ke ujung Sabang. Di sinilah makna penting kehadiran Jusuf Kalla dalam kontestasi kepemimpinan nasional.

Dalam situasi krisis dan ketergantung terhadap pengaruh asing, terkadang solusi-solusi yang diplomatis hanya menjadi obat bius tanpa bisa menyelesaikan persoalan secara mengakar. Dalam situasi inilah, seorang pemimpin sejati akan menunjukkan keberanian dalam sikap dan tindakannya. Jusuf Kalla hadir sebagai jawaban konkrit terhadap situasi nasional yang sarat dengan krisis yang direpresentasikan melalui keberpihakan terhadap usaha dalam negeri yang tidak jargonis. Lompatan progresif yang paling penting dari keberanian Jusuf Kalla adalah bentuk demistifikasi terhadap peta politik nasional yang diselubungi oleh hegemoni dan afirmatif etnisitas.

Kepemimpinan yang sejati bukan lahir dari pencitraan media namun lahir dari dialektika kesatuan pikiran, ucapan dan tindakan. Kesatuan tiga elemen itulah yang disebut sebagai keteladanan. Dalam berpikir, berucap dan bertindaknya, Jusuf Kalla menunjukan suatu komitmen dan totalitas terhadap keberpihakannya pada pengelolaan sumber daya dan kekuatan produktif dalam negeri untuk dikelola oleh tangan anak bangsa sendiri. Ini ditunjukkannya dengan JK Collection, sebuah gerakan cinta terhadap produk dalam negeri. Perubahan menuntut komitmen pada kepemimpinan yang mampu memberikan bukti sampai ke dalam dimensi yang bersifat personal sekalipun. Dalam konteks ini Jusuf Kalla hadir sebagai representasi produk dalam negeri dengan menggunakan sepatu, pakaian, dan kebutuhan harian lainnya. Keteladanan tentu bukan produk singkat dari iklan media dalam panggung propaganda pemilu saja namun rekam jejak kepemimpinan yang patut untuk sebuah suri teladan.

Dimensi terakhir adalah ke-Indonesia-an yang berbhineka secara bahasa, budaya dan warna kulit. Inilah dasar bagi warga negara untuk secara sadar menentukan masa depan republik di mana orang per orang memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti dijamin oleh Undang Undang Dasar 1945. Para pendiri republik menegaskan bahwa Ke-Indonesia-an dibangun di atas fondasi kegotongroyongan yang tidak pilah-pilih terhadap latar belakang etnis calon presidennya.

Dimensi keberanian, toleransi, dan keteladanan seperti yang telah ditunjukkan oleh Pati Unus dalam Ekspedisi Malaka-lah yang menjadi kekuataan utama Jusuf Kalla dalam menegaskan kembali ke-Indonesia-an serta kejayaan Indonesia di hadapan percaturan di abad milenium ketiga ini.

30 Juni 2019

Tinggalkan Balasan