NasDem Sumbang Seribu Buku untuk Warga Lapas Cipinang
Fraksi Partai NasDem menyerahkan lebih dari seribu buku kepada warga Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang, Jakarta Timur.
Anggota Fraksi NasDem, Willy Aditya, menyerahkan bantuan tersebut secara simbolik kepada Kepala Lapas Cipinang, Wachid Wibowo, pada Kamis (4/6).
Acara itu juga dihadiri Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto. Willy menjelaskan, jumlah buku yang dihibahkan tepatnya 1.170 buah.
Bantuan ini merupakan penunaian janji setelah Fraksi NasDem mengadakan acara buka bersama di tempat yang sama pada bulan Ramadan lalu. Menurutnya, langkah ini didasari kesadaran akan pentingnya literasi bagi siapa pun, termasuk warga lapas.
“Mereka yang ada di dalam lapas adalah warga negara juga. Adalah saudara kita sebagai sesama manusia juga. Mereka tetap punya hak untuk mengakses ilmu dan pengetahuan. Dengan kesadaran semacam itulah hibah ini dilakukan,” kata Willy yang juga menjabat Ketua Komisi XIII DPR RI.
Willy menambahkan, kegiatan ini tidak hanya menjadi pemantik kesadaran literasi dari dalam lapas, tetapi juga bertujuan mengisi waktu luang warga binaan dengan hal produktif dan kualitatif. Dia menyebut sejumlah tokoh yang justru melahirkan karya monumental dari balik jeruji. “Orang seperti Tan Malaka, Nelson Mandela, Buya Hamka, Pramoedya Ananta Toer, justru melahirkan karya-karya monumentalnya dari balik jeruji penjara,” ujarnya.
Willy menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar gimik. Langkah tersebut merupakan refleksi dari temuan panitia kerja pemasyarakatan selama ini. Sebagai ketua komisi yang membidangi urusan pemasyarakatan, ia menilai dinamika di dalam lapas tidak hanya soal temuan handphone, narkoba, atau senjata tajam.
“Jadi, melalui aksi yang menjadi bagian dari gerakan literasi ini kita bisa berharap terwujudnya lapas yang humanis dan kreatif,” tutur Willy. Dia berharap aksi Fraksi NasDem ini melahirkan gerakan serupa di masa depan. Willy juga mengusulkan agar pemberian amnesti tidak hanya didasarkan pada kepatuhan, tetapi juga produktivitas literasi warga binaan.
“Misalnya, kita berharap ke depan negara bisa memberikan amnesti tidak hanya berdasar pada aspek berkelakuan baik atau kepatuhan, tetapi juga bagaimana variabel membaca buku, menulis, bahkan adanya kelompok diskusi yang produktif, bisa jadi bahan pemberian amnesti bagi para warga binaan,” kata dia.
Willy memaparkan, jenis buku yang dihibahkan meliputi biografi, novel, politik, motivasi, buku teknis bercocok tanam, perikanan, ternak, pertukangan, serta buku sejarah, agama, sosial, budaya, hingga filsafat. Seluruh buku tersebut merupakan hasil patungan anggota fraksi. “Semua itu merupakan patungan dari anggota Fraksi sebagai sebuah kesadaran akan pentingnya literasi bagi bangsa ini. Itulah mengapa aksi ini kami sebut gotong royong literasi,” ungkapnya mengakhiri.
