NasDem Bawa Budaya Literasi ke Lapas
Fraksi Partai NasDem DPR RI mendorong budaya membaca dan menulis jadi bagian bagian penting bagi warga binaan selama menjalani masa tahanan. Gagasan itu dituangkan lewat gerakan Gotong Royong Literasi, di Lapas Kelas I Cipinang, Jakarta Timur, Kamis, 4 Juni 2026.
Anggota Fraksi NasDem DPR RI, Willy Aditya, menilai tolok ukur keberhasilan pembinaan di lapas tidak boleh hanya dilihat dari kepatuhan aturan, atau kelakuan baik saja. Kapasitas intelektual dan kemandirian warga binaan juga harus diasah.
“Kita berharap ke depan negara bisa memberikan perhatian lebih terhadap aspek literasi dalam pembinaan. Tidak hanya berkelakuan baik, tetapi bagaimana mereka aktif membaca, menulis, dan mengembangkan diri,” ujar Willy dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis, 4 Juni 2026.
Ketua Komisi XIII DPR RI ini mencontohkan, banyak tokoh besar dunia yang justru melahirkan karya-karya legendaris saat berada di balik jeruji besi. Hal itu diharapkan bisa menginsipirasi.
“Tan Malaka, Buya Hamka, Pramoedya Ananta Toer, hingga Nelson Mandela menunjukkan bahwa refleksi dan pengetahuan dapat melahirkan karya besar dari mana saja, termasuk dari balik jeruji,” lanjutnya.
Willy menegaskan, literasi bukan sekadar kegiatan membaca buku untuk menghabiskan waktu. Lebih dari itu, literasi adalah modal penting bagi warga binaan untuk mengubah cara berpikir dan menyiapkan masa depan yang lebih baik saat nanti kembali ke masyarakat.
“Literasi bukan sekadar aktivitas membaca. Literasi adalah proses membangun cara berpikir, membuka wawasan, dan menyiapkan masa depan yang lebih baik. Karena itu, akses terhadap pengetahuan harus menjadi bagian dari ekosistem pembinaan di lembaga pemasyarakatan,” kata Willy.
Dalam kegiatan tersebut, Fraksi Partai NasDem menyerahkan 1.000 buku kepada warga binaan. Hal ini sebagai upaya memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan dan bahan bacaan di lingkungan pemasyarakatan.
Buku-buku yang disalurkan ke Lapas Cipinang pun sangat beragam. Mulai dari buku bertema sejarah, biografi, agama, filsafat, politik, hingga buku panduan keterampilan praktis seperti pertanian, pertukangan, dan perikanan.
