Posted on / by Willy Aditya / in Catatan

Nanta Delano Cokroaminoto

Kebetulan adalah dua keharusan yang saling berjumpa dalam satu titik ruang dan waktu yang bernama momentum. Begitulah, kehendak dan harapan seringkali bertemu untuk menyibak rahasia dan tanda alam untuk kemudian kita baca dan tulis sebagai materi pembelajaran.
Pada momentum ini, kupahat dan kuukir sebuah prasasti melalui sebuah tulisan yang menjadi penanda sejarah sekaligus ekspresi diri yang berlangsung pada patahan ruang dan waktu. Sebab kali ini, di dalam momentum itu bertemu dua momen penting dalam hidupku: ulang tahun ijab qabul pernikahanku dengan kelahiran putra ketiga. Keduanya berjumpa dan dipertemukan oleh hukum kehidupan. Inilah tanda alam, karena Tuhan berkomunikasi dengan makhluk-Nya lewat tanda-tanda. Karena itulah manusia diperintahkan untuk senantiasa ‘membaca’. Sebagai khalifah di muka bumi ini, tugas manusialah kemudian untuk membaca, mengurai, dan menafsirkannya agar bermakna.
Momentum itu adalah 23 Desember 2015. Ia menjadi tanda kelahiran sekaligus pesan kehadiran yang menjadi perayaan kudus. Sebab momentum ini berdiri di depan 24 Desember 2015 yang bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1437 H, dan perayaan rutin 25 Desember. Sang momentum itu, mendahului kelahiran manusia agung Muhammad saw. dan kabar gembira bagi umat Nasrani atas kehadiran Isa putra Maryam ke muka bumi.
Kuukir dalam prasasti itu tiga tanda sekaligus menjadi nama putra ketiga, agar menjadi kisah sekaligus doa baginya. Inilah catatan yang kuharap bisa menjadi cakrawala dalam menyibak relasi antara iman yang tunggal pada Ilahi dengan universalitas cinta kasih pada kehidupan manusia di muka bumi.
Kupahat tanda-tanda itu untuk anak-anak, istri, keluarga, serta para sahabat. Dari tanda kita belajar membaca, dan dari pesan kita menunaikan tugas menuju kemanusiaan.
Tanda pertama adalah fondasi yang bernama keluarga. Dari dalam keluarga semua perkara kemanusiaan kita bermula. Ia adalah titik awal dimana relasi genetika diteruskan serta karakter dibangun menjadi pilar yang menyangga kedirian manusia. Tanda ini aku temukan dalam narasi seorang ayah bernama Nanta yang mewariskan semangat perjuangan yang total (kaffah) kepada anaknya dalam membebaskan belenggu penindasan.
Warisan paling utama bagi makhluk bernama manusia adalah perkara mendidik pelanjut angkatan dalam realitas tanah air dan sejarah leluhur mereka. Pembelajaran itulah yang diwariskan oleh ayah bernama Nanta pada puterinya Cut Nyak Dien dalam perang Aceh yang tak pernah padam. Ia mendidik anaknya dalam medan peperangan yang mengorbankan harta, darah, nyawa, hingga masa depan, untuk membela sebuah keyakinan.
Tanda kedua adalah lingkungan atau komunitas di mana kita hidup dan tidak sendiri. Setaman manusia dengan puspa ragam laku, tempat kita menalikan cinta kasih pada sesama. Di sinilah ruang didik dan warna hidup seorang anak manusia mulai tumbuh. Dan taman yang indah tak akan hanya memiliki warna dan bunga yang sama. Inilah tanda kebesaran Tuhan yang kita sebut sebagai rahmat dan nikmat. Seperti Warm Springs, sebuah taman yang menjadi tempat pengabdian hidup dan harta seorang Franklin Delano Rosevelt. Di taman itu, Delano mengabdikan hidupnya tidak untuk kesenangan terbatas, melainkan untuk kemuliaan orang banyak. Eksistensi dirinya didedikasikan untuk kemaslahatan orang banyak dengan interaksi yang humanis.
Tanda ketiga adalah sebuah senjata yang digunakan untuk merealisasikan cita-cita ke dunia nyata. Ruang ini adalah tantangan paling besar dalam kehidupan. Setiap manusia memiliki perkakas untuk melakukan merubah alam menjadi kebudayaan. Setiap pejuang memiliki senjata andalan. Batara Wisnu memiliki Cakra Sudarsana, sementara seorang Cokroaminoto membangun Sarekat Islam. Dengan itu Cokro menggalang kesadaran orang-orang terjajah untuk sebuah ikhtiar pembebasan nasional.
Sudah banyak yang memulai perlawanan. Ada Nanta dan Cut Nyak Dien, Diponegoro dan Sentot Ali Basha, Tuanku Rao dan Imam Bonjol, tapi ketajaman Cokroaminoto dalam memperbaharui metode perjuangan menjadi pembeda. Perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan dan kasabaran serta kemenangan menyaratkan senjata (organisasi) tajam dan ketelitian.
Inilah tiga perkara tanda alam itu. Dan anakku, atas alasan itulah aku memberi nama sekaligus pesan untukmu:
NANTA DELANO COKROAMINOTO :
Rahmat Tuhan yang tak terbatas bagi Putra Matahari
Anakku, aku ingin kau seperti Nanta yang total menjadi pejuang kehidupan. Apapun pilihan jalanmu, hendaknya engkau memakanainya sebagai perjuangan hidup.
Aku ingin kau menjadi rahmat bagi sesamamu sebagaimana Delano mengabdikan hidup dan hartanya bagi kemuliaan orang banyak. Hidup-hidupilah lingkungan di mana kau berada. Sebab dari lingkunganmu lah kau akan menyadari bagaimana perbedaan bukan berarti permusuhan tetapi takdir dan anugerah Tuhan.
Dan muara dari semua itu anakku, kau pilihlah ‘senjata’ yang tepat untuk mengantarkanmu pada pembangunan peradaban. Sebab inilah tugas sesungguhnya bagi seorang manusia sebagai khalifah: membangun peradaban.
Kebonnanas Utara, 23 Desember 2015

Tinggalkan Balasan